Rabu, 16 Oktober 2013

:::Rify::: *RioIfy*

Nama lengkap nyambung: Alyssa Saufika
UMario Stevano Aditya Haling Tanggal lahir:
Rio 24
Ify 6
2+4=6 Bulan lahir:
Ify bulan 12
Rio bulan 10
Angkanya jadiin satu 1210 dibaca RIO, iya
kan? Wk._. Alyssa Saufika Umari=18
Mario Stevano Aditya Haling=24
24-18=6 (tgl lahir ify) Nama depan+belakang:
Alyssa+Umari=6+5=11
Mario+Stevano=5+6=11
(jumlah hurufnya kebalik, tp akhirnya
menghasilkan angka yg sama yaitu 11) Nama tengah:
Saufika=7
Stevano=7
(sama2 7 dan sama2 berawalan S) Alyss(a) Saufik(a)= berakhiran aa..
Sedangkan,
Mari(o) Stevan(o)= berakhiran oo.. Alyssa+Saufika=5+7
Sedangkan,
Mario+Stevano=6+7
(akhiran sama yaitu 7) Alyssa Saufika= AS
Sedangkan,
Mario Stevano= MS
(akhiran sama lagi yaitu S) Zeth Haling= ZH
Tubagus Hanafi=TH
(Nama Ayahnya jg akhirannya sama yaitu
H) Gina SoniAmanda Kasengke (Nama Ibunya
nyambung) Panggilan sehari2:
Rio - Ify = 3huruf Panggilan unyu dri fans:
Iyo - Ipy = 3huruf+berawalan huruf I Bener nggak tuh semuanya? Wk._.
*random*
<data:blog.pageName/> |<br /> <data:blog.title/>


<data:blog.pageName/> |<br /> <data:blog.title/>

<data:blog.pageTitle/></ title></b:if></b:if> <div style='clear: both;'></div> </div> <div class='post-footer'> <div class='post-footer-line post-footer-line-1'> <span class='post-author vcard'> Diposting oleh <span class='fn' itemprop='author' itemscope='itemscope' itemtype='http://schema.org/Person'> <meta content='https://www.blogger.com/profile/07564143798478586039' itemprop='url'/> <a class='g-profile' href='https://www.blogger.com/profile/07564143798478586039' rel='author' title='author profile'> <span itemprop='name'>Unknown</span> </a> </span> </span> <span class='post-timestamp'> di <meta content='http://intannkumaladewi.blogspot.com/2013/10/rify-rioify.html' itemprop='url'/> <a class='timestamp-link' href='https://intannkumaladewi.blogspot.com/2013/10/rify-rioify.html' rel='bookmark' title='permanent link'><abbr class='published' itemprop='datePublished' title='2013-10-16T02:48:00-07:00'>02.48</abbr></a> </span> <span class='post-comment-link'> <a class='comment-link' href='https://intannkumaladewi.blogspot.com/2013/10/rify-rioify.html#comment-form' onclick=''> Tidak ada komentar: </a> </span> <span class='post-icons'> <span class='item-control blog-admin pid-381155862'> <a href='https://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2506546840609844289&postID=5603038338386567062&from=pencil' title='Edit Entri'> <img alt='' class='icon-action' height='18' src='https://resources.blogblog.com/img/icon18_edit_allbkg.gif' width='18'/> </a> </span> </span> <div class='post-share-buttons goog-inline-block'> <a class='goog-inline-block share-button sb-email' href='https://www.blogger.com/share-post.g?blogID=2506546840609844289&postID=5603038338386567062&target=email' target='_blank' title='Kirimkan Ini lewat Email'><span class='share-button-link-text'>Kirimkan Ini lewat Email</span></a><a class='goog-inline-block share-button sb-blog' href='https://www.blogger.com/share-post.g?blogID=2506546840609844289&postID=5603038338386567062&target=blog' onclick='window.open(this.href, "_blank", "height=270,width=475"); return false;' target='_blank' title='BlogThis!'><span class='share-button-link-text'>BlogThis!</span></a><a class='goog-inline-block share-button sb-twitter' href='https://www.blogger.com/share-post.g?blogID=2506546840609844289&postID=5603038338386567062&target=twitter' target='_blank' title='Bagikan ke X'><span class='share-button-link-text'>Bagikan ke X</span></a><a class='goog-inline-block share-button sb-facebook' href='https://www.blogger.com/share-post.g?blogID=2506546840609844289&postID=5603038338386567062&target=facebook' onclick='window.open(this.href, "_blank", "height=430,width=640"); return false;' target='_blank' title='Berbagi ke Facebook'><span class='share-button-link-text'>Berbagi ke Facebook</span></a><a class='goog-inline-block share-button sb-pinterest' href='https://www.blogger.com/share-post.g?blogID=2506546840609844289&postID=5603038338386567062&target=pinterest' target='_blank' title='Bagikan ke Pinterest'><span class='share-button-link-text'>Bagikan ke Pinterest</span></a> </div> </div> <div class='post-footer-line post-footer-line-2'> <span class='post-labels'> </span> </div> <div class='post-footer-line post-footer-line-3'> <span class='post-location'> </span> </div> </div> </div> </div> </div></div> <div class="date-outer"> <h2 class='date-header'><span>Selasa, 15 Oktober 2013</span></h2> <div class="date-posts"> <div class='post-outer'> <div class='post hentry uncustomized-post-template' itemprop='blogPost' itemscope='itemscope' itemtype='http://schema.org/BlogPosting'> <meta content='2506546840609844289' itemprop='blogId'/> <meta content='1301486759647048842' itemprop='postId'/> <a name='1301486759647048842'></a> <h3 class='post-title entry-title' itemprop='name'> <a href='https://intannkumaladewi.blogspot.com/2013/10/ideal-boyfriend-cagni-cakkaagni.html'>:::Ideal Boyfriend::: ~> Cagni *CakkaAgni*</a> </h3> <div class='post-header'> <div class='post-header-line-1'></div> </div> <div class='post-body entry-content' id='post-body-1301486759647048842' itemprop='description articleBody'> “ nih ! “. “ buseeeet. Banyak bener “. “ loe yakin nih ? “. “ yapz !! “. “ gila agh loe “. Gadis manis ini tampak menggidikkan<br /> bahu tak peduli menatap ketiga rekannya<br /> dengan senyum jahilnya. Sementara<br /> ketiga sahabatnya itu tampak menghela<br /> nafas sembari menggeleng kecil mentap<br /> sahabat kental mereka ini tak percaya. “ Agni. Apa yang ini juga masuk dalam<br /> keriteria loe ? “. Tanya seorang gadis<br /> berwajah tirus menunjuk satu kalimat<br /> pada daftar yang saat ini ada di<br /> tangannya. Gadis bernama Agni itu<br /> mengangguk semangat dan mencomot nuget goreng di depannya. “ sumpah ya, kamu ini luar biasa banget<br /> “. Seorang gadis berkacamata menaik<br /> turun kan duduk kacamatanya menatap<br /> selembar kertas panjang di genggaman<br /> gadis berwajah tirus itu bengong. “ loe semuakan tau, gw ini Miss. Perfect “.<br /> Ujar Agni dan memainkan kerah<br /> seragamnya. “ perfect si perfect. Tapi yah gak<br /> segininya juga kali, Ni “. Gadis berwajah<br /> Chubby mengambil alih daftar yang<br /> berada di tangan Ify –gadis berwajah<br /> tirus- dan membuka lembarannya. Sesaat<br /> tiga gadis itu melongo dan menatap Agni cengo. Ketiganya tampak menghela nafas<br /> dan menyeringai garing. *** “ kamu gak salah, Ni ? “. “ kenapa sih ? “. Agni menghentikan<br /> langkahnya dan menatap Nova –gadis<br /> berkacamata- dengan dahi berkerut. Nova tampak berfikir sejenak, menatap<br /> Agni lekat. Agni yang merasa aneh<br /> dengan tatapan sahabatnya itu pun<br /> menaikan satu alisnya bingung. Nova<br /> lagi-lagi hanya mampu menghela nafas<br /> dan kembali mengambil daftar tulisan Agni dari dalam saku jas seragamnya. “ ganteng, cool, keren, tampan, gak malu-<br /> maluin… “. Nova menarik nafas sejenak<br /> dan menatap Agni lekat kemudian<br /> kembali melanjutkan bacaannya. “ putih,<br /> mata hitam, potongan rambut kayak<br /> Touma ? “. Nova mengerutkan dahinya bingung dan melirik Agni sekilas. “ hehehe. Itu loh, tokoh komik karya<br /> Shiiba Nana “. Ucap Agni sambil nyengir<br /> Gaje. Nova berdecak kecil sambil geleng-<br /> geleng kepala tak mengerti, kembali di<br /> liriknya daftar terakhir yang tetulis di<br /> kertas milik Agni itu. “ tajir ? “. “ aduuuuh. Udah ah. Ngapain sih di bahas<br /> lagi “. Seru Agni dan meraih daftar<br /> miliknya dan mengembungkan pipinya<br /> lucu. Nova tampak terkikik kecil saat<br /> melihat sahabatnya ini menghentakkan<br /> kaki di lantai kesal dan berniat beranjak. ‘bruuuk’. “ auh !! “. Agni mengadu saat seseorang<br /> yang tiba-tiba berada di belakangnya,<br /> dan tak sengaja bertabrakan dengannya.<br /> Agni mendongakkan kepalanya, menatap<br /> pemuda di hadapannya itu tak berkedip. “ ahh. Alvin ? kamu sekolah disini juga ? “.<br /> Tanya nova menatap sosok pemuda<br /> bernama Alvin itu terkejut. Agni tampak<br /> mengedipkan matanya dan sedikit<br /> melirik kearah Nova dan pemuda yang<br /> tampak tengah tersenyum manis dan mengangguk kecil ke arah Nova<br /> bergantian. “ huaaa. Kenapa gak kasih kabar ? aku<br /> senang lihat kamu “. Nova tersenyum<br /> antusias dan berlari kecil mendekati<br /> Alvin. Pemuda itu hanya mengangguk dan<br /> mengacak sedikit rambut poni Nova. Agni<br /> tampak cengo dan mengembungkan pipinya merasa tak di perdulikan. “ oh iya. Alvin, kenalin… ini Agni sahabat<br /> aku. Agni, kenalin… ini Alvin. Dia ini anak<br /> rekan bisnis papa aku. Kita udah kenal<br /> dari kecil. Alvin dulu sekolah di singapura<br /> “. Terang Nova panjang lebar<br /> memperkenalkan dua manusia di hadapannya itu satu persatu. Alvin<br /> tersenyum dan mengangguk kearah Agni. “ aku mau ke kantor kepala sekolah “.<br /> Ucap Alvin sesaat kemudian dan<br /> mengarahkan pandangannya kembali<br /> pada Nova. “ oh. Bareng aja yuk !! “. Seru Nova dan<br /> menarik lengan Alvin. Pemuda itu pun<br /> tersenyum dan mengangguk. Agni<br /> tampak tersenyum misterius menatap ke<br /> pergian Alvin dan Nova saat itu dan<br /> kembali mengamati kertas yang ada di tangannya dengan senyum mengembang. *** Agni menedarkan pandangannya<br /> keseluruh penjuru sekolah dengan<br /> tampang kesal. Pasalnya sudah hampir 30<br /> menit dia menunggu supirnya, tapi belum<br /> kunjung datang. Agni menghela nafas<br /> berat. Dia tidak perduli kalau-kalau dia harus bertemu dengan orang jahat lagi.<br /> Dengan mantap Agni pun melajukan<br /> kakinya keluar dari gedung sekolahnya. Sudah hampir 10 menit Agni berjalan tak<br /> tentu arah. Sesaat ia tersadar dan<br /> kembali mengedarkan pandangannya<br /> kesegala arah. Rauh wajahnya mulai<br /> tampak khawatir. Ini baru yang pertama<br /> kalinya dia jalan-jalan seperti ini sendirian. Agni melirik ke arah mesin<br /> minuman. Sesaat ia mengeluarkan<br /> sebuah benda persegi dari dalam sakunya<br /> dan mencari celah untuk menggesekan<br /> benda itu di mesin tersebut. “ igh.. kok gak bisa sih ? “. Seru Agni dan<br /> menendang mesin minuman itu geram. ‘klek’ Seorang pemuda tampak berjongkok dan<br /> mengambil sekaleng softdrink dari mesin<br /> minuman di depan Agni. Agni tampak<br /> melongo, memandang pemuda dan mesin<br /> minuman itu bergantian. Dengan<br /> tampang manyun Agni pun kembali mengantongi kartu kreditnya ke saku jas<br /> sekolahnya. “ huh.. ini, pakai koin. Sampai hari raya<br /> monyet kalau pakai kreditcard yah gak<br /> bakal keluar “. Ucap pemuda itu tiba-tiba<br /> dan menyodorkan softdrink yang baru ia<br /> ambil kearah Agni. Agni mengerutkan<br /> dahinya bingung. “ kamu haus kan ? “. Tanya pemuda itu<br /> lagi. Agni mengangguk ragu. Pemuda<br /> tersebut tersenyum dan kembali<br /> menyodorkan kaleng softdrinknya. Agni<br /> menatap pemuda dengan mata coklat di<br /> depannya ini ragu dan perlahan meraih kaleng softdrink tersebut. “ terimakasih “. Ucap Agni tersenyum<br /> kikkuk dan meneguk minumannya.<br /> Pemuda itu sedikit menunduk dan<br /> berlalu. *** Agni menatap tajam beberapa pegawai<br /> di rumahnya. Pipinya tampak<br /> mengembung pertanda kalau dia sangat<br /> kesal. Dea, asisten sekaligus pengasuh<br /> Agni tampak menghela nafas dan<br /> mendekat kearah Agni. “ sebaiknya nona istirahat. Nona pasti<br /> lelah karena seharian ini tersesat, kan ? “.<br /> Ucap Dea lembut menatap majikannya itu<br /> hati-hati. Agni memicingkan matanya<br /> dan kembali menatap orang-orang yang<br /> berdiri sejajar di hadapannya itu tajam. “ sekali ini aku maafin kalian. Tapi awas.<br /> Kalau besok-besok telat lagi, aku bakal<br /> pecat “. Ucap Agni tegas dan berjalan<br /> dengan hentakan kaki kesal menuju<br /> kamarnya. Dea tampak menggeleng kecil<br /> dan menatap beberapa pegawai satu per satu. “ lain kali jangan di ulangi. Nona paling<br /> tidak suka menunggu “. Ucap Dea dan<br /> sedetik kemudian menyusul langkah<br /> Agni. *** “WHAT !! “ “ loe gila agh, Ni “. “ tau nih. Gak deh, gw gak mau “. “ yaudah kalau gak mau bantu. Gw bisa<br /> sendiri kok “. Ucap Agni seraya bangkit<br /> dari duduknya. Ify dan Via tampak<br /> menggeleng tak mengerti sementara<br /> Nova hanya menunduk lesu mendengar<br /> rencana sahabatnya itu. ‘brukkk’ Agni terdiam di tempat. Baru saja ia<br /> membicarakan pemuda ini dan sekarang<br /> dia sudah berdiri tegap di hadapan Agni.<br /> Ify dan Via menahan nafas dan melirik<br /> kearah Nova yang saat itu tampak tak<br /> perduli. “ ma.. maaf yah “. Ucap Agni yang entah<br /> kenapa tiba-tiba menjadi gugup. Pemuda<br /> itu tampak tersenyum dan mengangguk<br /> kecil, sesaat kemudian pemuda tersebut<br /> pun berjalan kearah bangku tempat Agni<br /> sedetik lalu duduk. “ nanti malam aku ke rumah kamu yah ?<br /> “. Nova mendongakkan kepalanya<br /> menatap pemuda yang kini duduk di<br /> sebelahnya kaget. Ia melirik kearah Via<br /> dan Ify yang duduk di depannya dan Agni<br /> yang kini tampak menatapnya kesal. “ bisakan ? “. “ ah.. iya. Bisa kok “. Ucap Nova serba<br /> salah sesaat Agni beranjak dari<br /> tempatnya berdiri. *** “ hhuhhh.. dasar nyebelin “. Gerutu Agni<br /> kesal dan menghentakkan kakinya di<br /> lantai koridor kasar. Agni melirik arlogi<br /> di pergelangan kirinya sedetik kemudian<br /> ia kembali merengut. Agni terlihat<br /> berfikir sejenak, tak lama sebuah senyum misterius tercetak di wajahnya. Dengan<br /> lincah ia pun menekan beberapa nomor<br /> yang sudah ia hapal luar kepala . “ Dea. Tolong kamu siapkan surat izin aku<br /> buat dua hari. Aku lagi malas masuk<br /> pelajaran. Dan ingat, jangan sampai<br /> kakek tau. Mengeti “. Perintah Agni<br /> dengan suara tegas. Seseorang bernama<br /> Dea berseru mengiykan tak lama Agni pun memutuskan panggilannya dan<br /> berjalan keluar sekolah. “ huh.. lihat aja. Aku pasti bisa dapat<br /> pacar sebelum ulang tahun ke 17 minggu<br /> depan dengan ciri-ciri seperti yang ada di<br /> daftar ku. Lihat saja “. Gumam Agni<br /> antusias dan melepas jas seragamnya<br /> dan mengenakan kardigan yang selalu ia bawa di dalam tas sekolahnya. *** “ huh.. kenapa ? kenapa di sini ramai<br /> banget ? “. Agni menunduk takut saat ia<br /> tanpa sadar sudah memasuki pusat<br /> perbelanjaan. Ia merasa kepalanya<br /> pusing. Agni menelan ludahnya dengan<br /> sukar. Ia paling tidak suka tempat ramai. Ia punya pengalaman buruk akan<br /> tempat-tempat seperti ini. Air mata Agni<br /> nyaris mengalir. Di peluknya tas<br /> tangannya erat-erat sembari menatap<br /> orang-orang yang berada di sekitarnya<br /> takut “ hai nona !! “. Seorang pria tiba-tiba<br /> meraih lengan Agni sontak membuatnya<br /> terperanjat. “ lepas “. Seru Agni dan menatap pria itu<br /> dengan tatapan dingin. “ wah.. cantik-cantik galak. Kita gak akan<br /> apa-apain kamu kok. Mending ikut kita<br /> aja yuk “. Ucap rekannya yang kini<br /> hendak merangkul Agni. Dengan kasar<br /> Agni pun menepis rangkulan sosok<br /> tersebut. “ jangan berani-berani ya nyentuh saya “.<br /> Agni nyaris berteriak. Membuat dua pria<br /> di hadapannya itu melotot marah. Agni<br /> tampak bergidik ngeri. Di tutupnya mata<br /> rapat-rapat tak berani memandang dua<br /> pria di hadapannya itu. Nafas Agni mulai terasa sesak. Ia merutuki diri karena<br /> lagi-lagi melakukan kesalahan dengan<br /> berkeliaran seperti ini sendirian. Agni<br /> teringan sesuatu….. “ egh tunggu !! “. Seru Agni menahan<br /> langkan pemuda itu saat hendak<br /> beranjak. Pemuda itu menghentikan<br /> langkahnya dan kembali menatap Agni<br /> sembari tersenyum. “ kenapa ? “. “ hemm.. nama kamu siapa ? “. Tanya<br /> Agni ragu. Pemuda itu mengalihkan<br /> pandangannya dan menatap sebuah<br /> komik yang saat itu tengah Agni<br /> genggam. Agni pun mengikuti arah<br /> pandangan pemuda itu. “ Kka ? “. Tanya Agni dengan dahi<br /> berkerut. “ kurang lebih seperti itu “. Ucap pemuda<br /> itu lembut. Agni membuka matanya perlahan. Sesaat<br /> ia melihat sosok pemuda yang seminggu<br /> lalu ia temui di depan mesin minuman<br /> tengah asik melihat lihat di sebuah toko<br /> aksesoris. Mata Agni seketika itu<br /> berbinar. “ ayo !! “. Pria itu kini menyentak<br /> genggamannya kasar membuat Agni<br /> meringis. “ lepasin ! kalau gak aku teriak nih ? “.<br /> Ancam Agni menatap dua pria di<br /> hadapannya tajam. Kedua pria itu<br /> tampak tersenyum remeh. “ haha. Silahkan… kalau memang ada<br /> yang berani menolong mu nona “. Ujar<br /> pria tersebut dan menyentuh dagu Agni.<br /> Agni memejamkan matanya dan sesaat<br /> kemudian membukanya seraya menarik<br /> nafas panjang. “ Kkaaaaaaaaa ! “. Teriak Agni benar-<br /> benar super kencang membuat kedua<br /> pria itu mau tak mau menutup telinga<br /> mereka. “hem ? “. Sementara pemuda yang tengah<br /> asik di toko aksesoris itu tampak<br /> celingak-celinguk keseluruh pelosok toko<br /> mencari seseornag yang baru saja<br /> memanggilnya itu. “ maaf. Apa anda mendengar suara<br /> teriakan ? “. Tanya pemuda itu pada si<br /> penjaga toko. Penjaga toko tersebut<br /> mengangguk dan menunjuk jauh di<br /> depan tokonya. Pemuda itu menoleh dan<br /> menyipitkan matanya agar dapat melihat dengan jelas apa yang terjadi disana. “ lepasin !! “ . seru Agni lagi. “ lihat. Tidak ada yang menolong kamu<br /> kan ? haha. Makanya nona, sebaiknya ikut<br /> kita aja “. Ucap pria itu lagi yang kembali<br /> berusaha merangkul Agni. Tapi gerak<br /> pria itu gagal saat sebuah tangan yang<br /> entah datang dari mana tiba-tiba melingkar di leher Agni, merangkulnya<br /> erat dan menatap tajam tepat empat<br /> bola mata di hadapannya itu bergantian.<br /> Dua pria itu tampak menelan ludahnya<br /> dengan sukar. Mereka sebal pada Agni<br /> dan juga pemuda itu tak lama mereka pun beranjak. Agni merasa jantungnya berdetak sangat<br /> kencang melebihi batas normal. Nafasnya<br /> juga mulai ngos-ngosan. Pemuda itu<br /> masih pada posisinya. Sedetik kemudian<br /> ia pun melepas rangkulannya dan<br /> menatap Agni lekat. “ terimakasih. Kamu udah nolongin aku<br /> dua kali “. Ucap Agni dan entah kenapa ia<br /> merasa gugup sekarang. Pemuda itu pun<br /> hanya tersenyum dan mengangguk kecil. *** Agni menatap pemuda dengan style yang<br /> menurut Agni terlalu simple untuk ukuran<br /> cowok itu dengan tatapan lekat. Entah<br /> kenapa Agni suka dengan sepasang mata<br /> coklat milik pemuda di sampingnya ini. “ siapa nama kamu ? “. Tanya pemuda itu<br /> akhirnya sembari menikmati icecream<br /> mocca di genggamannya. “ Agni. Agniezkka Ferdinan “. Seru Agni<br /> dan mengulurkan tangannya kearah<br /> pemuda itu. “ Agniezkka Ferdinan ? “. Pemuda itu<br /> tampak kaget. Agni mengangguk<br /> semangat. “ hemm.. Cakka “. Ucap pemuda itu<br /> memperkenalkan namanya. Agni pun<br /> mengangguk sembari tersenyum<br /> menatap wajah putih pucat di<br /> sampingnya itu. *** Sudah hampir satu jam Agni mondar-<br /> mandir di dalam kamarnya. Dea yang<br /> melihat nonanya seperti itu pun merasa<br /> heran dan memberanikan diri<br /> menghampiri Agni yang saat ini tengah<br /> berdiri menatap ke luar balkon kamarnya. “ nona ada masalah ?”. tanya Dea lembut.<br /> Agni menoleh. Di tatapnya Dea yang<br /> sudah ia anggap kakak itu lekat. “ huh… kalau misalnya aku pacaran sama<br /> orang yang tidak sedrajat gimana ? “.<br /> Tanya Agni yang kontan membuat Dea<br /> melongo. “ maksud nona ? “. “ hemm.. aku ketemu sama seseorang.<br /> Yah, baru beberapa kali sih. Tapi menurut<br /> aku dia baik. Dan gak tau kenapa, aku<br /> merasa nyaman sama dia “. Jelas Agni<br /> yang kali ini duduk di atas kursi sofa di<br /> luar balkon sembari memeluk lututnya erat. “ nona !! “. Seru Dea yang seakan tidak<br /> setuju dengan apa yang nonanya itu<br /> pikirkan. Agni mengangkat wajahnya dan<br /> kembali menatap Dea. “ iyaaa. Aku ngerti Dea. Itu tidak<br /> mungkin, kan ? “. Seru Agni lirih dan<br /> beranjak ketempat tidurnya. Ia rebahkan<br /> tubuhnya dan menarik selimut lembut itu<br /> sampai menutupi seluruh badannya. Dea<br /> tersenyum kecut dan sesaat kemudia ia pun beranjak. *** Agni menatap kertas di genggamannya<br /> erat. ia tatap beberapa orang yang saat<br /> itu tengah bersantai di kantin ragu. “ huh.. bisa. gw pasti bisa “. Seru Agni.<br /> Kembali ia masukan kertas tersebut<br /> kedalam sakunya dan tak lama ia pun<br /> berjalan cepat mendekati rekan-<br /> rekannya itu. Agni berdiri tegak di samping meja para<br /> sahabatnya dan menatap satu sosok<br /> lekat. Ify dan Via tampak mengerutkan<br /> dahi mereka bingung melihat tingkah<br /> Agni yang terlihat sangat aneh beberapa<br /> hari ini. “ loe kenapa ? “. Tanya Ify kemudian.<br /> Sesaat Nova pun menoleh menatap Agni<br /> yang saat itu berdiri tepat di<br /> belakangnya. Agni tampak menarik nafas panjang. Di<br /> tatapnya sosok Alvin dan membuat<br /> beberapa pasang mata di hadapannya<br /> menatapnya bingung “ Alvin. Gw mau loe jadi pacar gw “. “ uhuk “. “ APAAA ? “. Delapan pasang mata<br /> menatap Agni tak percaya. Terlebih Nova<br /> yang tampak menggelengkan kepala<br /> menatap Agni tak mengerti. Alvin<br /> melongo. “ loe ngomong apa barusan ? “. Tanya<br /> Alvin yang tak yakin dengan apa yang ia<br /> dengar barusan. “ GW… MAU… LOE… JADI… PACAR GW “.<br /> Ucap Agni penuh penekanan menatap<br /> tepat dua manik Alvin. Via dan Ify kini<br /> tampak menganga lebar. “ Agni, pelayan dirumah loe pada salah<br /> masak yah ? “. Ify mulai menatap Agni<br /> cemas. Gadis itu menggeleng dan<br /> kembali mengalihkan pandangannya<br /> pada Alvin. “ Ni. Kamu gak bisa dong langsung<br /> nembak Alvin kayak gini. Kamu fikir dia<br /> cowok apaan sih ? “. Nova menatap Agni<br /> dingin. Entah mengapa gadis cantik ini<br /> merasa tak suka dengan ulah sahabatnya<br /> itu. Agni melirik Nova sesaat. Ia sedikit mencibir. Tanpa izin dari yang lain Agni<br /> pun dengan seenaknya menarik Alvin<br /> begitu saja. *** Alvin bengong sebengong bengongnya<br /> saat menerima catatan Agni mengenai<br /> cowok idamannya dan ternyata semua<br /> kriteria itu ada di Alvin. Alvin tampak<br /> enggeleng dan terkekek kecil. “ kenapa ketawa ? “. Tanya Agni menatap<br /> Alvin bingung. “ gak papa. Cuma ngerasa lucu aja sama<br /> loe. Kayak anak SD “. Ucap Alvin<br /> seenaknya berusah menahan tawanya.<br /> Agni cengo di bilang begitu. Di tatapnya<br /> Alvin tajam tepat di dua manik mata<br /> pemuda itu. “ huh… kalau loe gak mau jadi pacar gw<br /> ya udah. Gak usah ngatai gw kayak gitu<br /> juga “. Ketus Agni dan dengan langkah<br /> besar beranjak dari hadapan Alvin. *** “ masih berani keluyuran sendirian ? “.<br /> Suara seseorang mengagetkan Agni. Saat<br /> ini gadis manis ini tengah menyendiri di<br /> sebuah dermaga. Pandangannya lurus<br /> menatap lekat ke tengah laut dan sedetik<br /> kemudian mendongak melihat si pemilik suara itu sedikit kaget. “Cakka ? ngapai kamu disini ? “. Tanya<br /> Agni dan menatap sekitarnya. “ aku kerja di dekat sini. Kamu sendiri…<br /> ngapain disini ? “. Ucap Cakka dan<br /> mendudukkan dirinya tepat di samping<br /> Agni. “ nenangin diri “. Jawab Agni seadanya. “ hem ? kenapa ? “. “ banyak problem “. “ waaah. Anak SMA udah banyak<br /> problem ? “. Cakka tampak terkikik. Dan<br /> melempar pandangannya lurus ke depan.<br /> Agni menoleh dan menatap Cakka<br /> setengah kesal. “ kamu pikir Cuma orang tua kayak kamu<br /> aja apa yang bisa punya masalah “. Ujar<br /> Agni dan menatap Cakka kesal. Cakka<br /> kembali terkikik. “ aku masih 20 tahun. Terlalu muda kalau<br /> kamu panggil aku orang tua nona “. Ucap<br /> Cakka dan mengacak rambut Agni.<br /> Seketika Agni terdiam. Untuk kesekian<br /> kalinya ia merasa jantungnya berdebar<br /> kencang setiap saat cakka meletakkan tangan lebarnya di puncak kepalanya. “ hemm.. ya ya ya. Terserah deh “. Ujar<br /> Agni berusaha menutupi kesaltingannya<br /> dan meniup-niup poninya. “ huh… bisa cerita kamu kenapa ? “.<br /> Tanya Cakka yang kali ini menatap Agni<br /> serius. Agni tampak terenyum sembari<br /> berfikir sejenak. Sesaat ia pun<br /> mengangguk. *** “ apa ? tunangan ? “. Agni memekik keras<br /> saat tuan Ferdinan –kakek Agni-<br /> menjelaskan rencana pertunangan<br /> cucunya itu tepat di acara ulang tahun ke<br /> tujuh belasnya tiga hari lagi. Agni tampak<br /> menatap kakeknya itu tajam. “ Agni gak mau kek. Agni bisa kok cari<br /> pacar sendiri, gak perlu kakek jodoh-<br /> jodohin Agni “. Ucap Agni ketus. “ huh… kakek tau. Tapi pemuda itu sesuai<br /> dengan keriteria yang selalu kamu bilang<br /> ke kakek. Ganteng, tampan, keren, dan<br /> model rambut seperti….ah, tokoh komik<br /> kesukaan kamu itu “. Jelas sang kakek<br /> menatap cucu tersanyangnya itu lekat. Entah mengapa Agni merasa tak tertarik<br /> lagi dengan daftar keriteria yang ia buat<br /> itu. Pikirannya seakan-akan<br /> mengingatkannya akan Cakka. Pemuda<br /> yang jauh dari semua keriteria yang Agni<br /> punya. Agni menghela nafas perlahan. “ pokoknya Agni gak mau, kek. Agni udah<br /> punya pilihan “. Seru Agni dan sesegera<br /> mungkin beranjak dari tempatnya duduk<br /> dan berjalan menuju kamarnya. *** Cakka mendengus kesal saat melihat<br /> sebuah nama tertera di layar ponselnya.<br /> Tanpa minat Cakka pun menekan tombol<br /> nafigasi yes dan meletakkan benda kotak<br /> itu di telinganya. “ kenapa ? “. Tanya Cakka ketus.<br /> Seseorang di sebrang tampak terkekeh. “…” “ ngomong yang jelas “. “ hahaha. Sorry sorry. Loe jangan marah<br /> mulu dong kak. Ck, kapan loe pulang ? “.<br /> Tanya seorang pemuda yang mulai<br /> terdengar serius. Cakka merebahkan<br /> penggungnya di sandaran kursi dan<br /> menghela nafas berat sebelum menjawab pertannyaan saudaranya itu. “ gw gak akan pulang “. Ucap Cakka<br /> dengan nada bicara yang mulai terdengar<br /> dingin. “ huh… kak, ayolah. Jangan kekanakan<br /> gitu. Ini demi kebaikan loe juga kok.<br /> Kebaikan kita semua “. Ujar pemuda itu<br /> lagi. Cakka mulai tampak menggeram. “ Alvin. Gw gak suka di atur. Gw mau<br /> nentuin hidup gw sendiri. Jadi tolong..<br /> sebaiknya loe sementara ini jangan<br /> hubungi gw dulu “. Cakka tak<br /> memberikan kesempatan untu k Alvin<br /> berbicara, sesaat kemudian panggilan mereka pun terputus. Cakka menggenggam ponselnya erat.<br /> matanya mulai memerah. Ia tidak bisa<br /> kembali kerumah itu. Tidak akan pernah.<br /> Dia tidak akan sudi di manfaatkan oleh<br /> keluarganya sendiri hanya semata-mata<br /> demi bisnis. *** “ jadi kak Cakka gak mau pulang ? “. Nova<br /> menyodorkan sekaleng softdrink kearah<br /> Alvin. Alvin menghela nafas dan<br /> mengangguk sekilas. “ orang tua kamu juga salah, Vin.<br /> Seharusnya mereka gak bersikap kayak<br /> gitu sama kak Cakka “. Ucap Nova dan<br /> menatap Alvin lekat. “huhhh.. iya aku tau. Tapi mau gimana<br /> lagi, Va. Perusahaan keluarga aku udah<br /> banyak banget minjam dana di mereka “.<br /> Alvin tampak tertunduk lesu. Nova pun<br /> mulai terlihat prihatin dengan<br /> sahabatnya itu. Ia tepuk pundak Alvin pelan berusaha memberi kekuatan. “ kamu yang sabar ya. Aku yakin kok,<br /> semua pasti baik-baik aja “. Ucap Nova<br /> sembari tersenyum tulus. Alvin menatap<br /> Nova, ia raih jemari gadis itu dan di<br /> genggamnya erat. “ makasih ya, Va. Makasih banget. Kamu<br /> memang sahabat terbaik aku “. Ujar Alvin<br /> dengan mata berkaca. Nova pun tampak<br /> mengangguk semangat. *** Cakka meremas sebuah koran penuh<br /> amarah. Ia benar-benar tak habis fikir<br /> dengan tindakan dua keluarga ini. Ia<br /> menatap foto dirinya dan foto seorang<br /> gadis cantik di salah satu artikel di<br /> sebuah majalah menahan emosi. “ arrrrrrgh.. “. Cakka melempar majalah<br /> itu kesembarang arah. Agni yang entah<br /> sejak kapan berdiri di depan pintu<br /> kontrakan Cakka tampak kaget melihat<br /> pemuda itu tengah emosi. “ Cakka !! “. Seru Agni menatap Cakka<br /> hati-hati. Cakka menoleh menatap Agni<br /> dengan mata melebar. “ ngapain kamu kesini ? “. Tanya Cakka<br /> dingin dan menatap Agni tajam. “ Cakka !! “. Agni menatap takut-takut<br /> kearah Cakka yang menatapnya dengan<br /> tatapan penuh amarah. “ hem.. aku balik deh !! “. Seru Agni dan<br /> hendak berbalik badan. Tapi dengan<br /> sigap Cakka meraih lengan Agni. Agni<br /> tersenyum. Ia kembali menghadap Cakka<br /> dan menatap pemuda itu bingung. “ kenapa ? “. Tanya Agni. Cukup lama<br /> Agni menatap pemuda itu lekat yang<br /> hanya menatapnya dengan tatapan yang<br /> sulit di artikan. “ pergi !! “. Seru Cakka tiba-tiba dan<br /> melepas genggamannya kasar. Agni<br /> sontak kaget dan menatap pemuda itu<br /> bingung. “ kamu kenapa sih ? “. “ aku bilang pergi “. Ucap Cakka tanpa<br /> menatap Agni. Agni menggeleng kecil<br /> tanda tak mengerti. Di raihnya lengan<br /> Cakka dan di tariknya agar pemuda itu<br /> menatapnya. “ kamu kenapa ? “. Tanya Agni lagi. Cakka<br /> masih diam. Tatapannya masih terlihat<br /> menyala. Sejujurnya Agni takut tatapan<br /> itu, tatapan yang baru pertama kali Agni<br /> dapat dari sosok Cakka. “ AKU BILANG PERGI “. Bentak Cakka dan<br /> menghentakkan genggaman tangan<br /> Agni. *** Agni memeluk kedua lututnya erat.<br /> rambut indahnya yang biasa tertata rapi<br /> kini tampak berantakan. Setelah<br /> keajadian semalam Agni seharian tak<br /> keluar kamar. Perlahan Agni mengangkat<br /> wajahnya. Perutnya mulai terasa keroncongan. Karena ancamannya agar<br /> para pelayan jangan menghampirinya<br /> jadilah tak seorang pun ada yang berani<br /> membawakannya makanan. Dengan<br /> lunglai Agni bangkit dari duduknya dan<br /> berjalan menuju dapur. “ huaaaaaaaa ! “. “ Via, Ify. Apaan sih ? “. Agni menutup<br /> telinganya rapat-rapat saat mendengar<br /> kedua sahabatnya itu yang tiba-tiba saja<br /> berteriak saak melihat ia keluar kamar. “ anu… ini, loe ? loe gak salah dandan<br /> gini ? “. Tanya Via menatap Agni yang<br /> terkenal selalu rapi kali ini terlihat<br /> sangat berantakan. “ sorry aku ..tel-lat ! ou oo. Ya ampun<br /> Agniii ! “. Nova yang baru saja tiba sukses<br /> di buat mangap. Agni hanya menggeleng<br /> kecil menggaruk kepalanya yang tak<br /> gatal dan meneruskan langkahnya<br /> menuju dapur. “ pagi nona! “. “ pagi “. Ucap Agni datar. Seluruh pelayan<br /> yang ada di rumah mewah itu pun<br /> menatap nona mereka itu takjub. Begitu<br /> pula Dea yang merasa jantungnya nyaris<br /> lepas melihat putri Ferdinan seperti itu. “ loe kenapa sih ? “. Ify menatap lekat<br /> Agni yang tengah asik melahap roti bakar<br /> buatannya itu dan duduk di bangku<br /> pentri. “ gak papa “. Jawab Agni seadanya. “ yakin gak papa ? “. Via menatap Agni<br /> tak percaya. Ia hanya berdehem dan<br /> mengangguk kecil. *** Hari ulang tahun Agni akhirnya pun tiba.<br /> Ia tampak cantik dengan gaun ungu soft<br /> panjang dan rambut lurus sepunggungnya<br /> yang di gerai. Agni tampak kesal. Pipinya<br /> lagi lagi ia gembungkan. Dea yang<br /> melihat nonanya seperti ini pun hanya mampu menghela nafas berat. “ apa kakek beneran mau jodohin aku ? “.<br /> Tanya Agni dan menatap Dea dari cermin<br /> lekat. Dea tampak tersenyum dan<br /> mengenggam bahu Agni erat. “ aku gak mau di jodohin, Ea “. Ucap Agni<br /> dan kini menoleh, menatap tepat di<br /> manik mata Dea. “ huh.. ini demi kebaikan nona “. Ucap<br /> Dea seadanya. “ kebaikan ? kebaikan apa ? “. Seru Agni<br /> setengah berteriak. Matanya mulai terasa<br /> perih. Pikirannya kembali teringat akan<br /> Cakka. Sudah tiga hari dia tidak<br /> berjumpa pemuda itu. Dan selama itu<br /> mereka juga masih saling diam. Agni menghela nafas dan kembali<br /> menghempaskan tubuhnya di kursi<br /> riasnya sembari menelungkupkan<br /> wajahnya di kedua lipatan tangannya di<br /> atas meja. *** “ lepas. Lepasin gw ! “. Cakka meronta<br /> saat beberapa orang menyeretnya begitu<br /> saja memasuki sebuah van. Cakka<br /> menatap tajam beberapa orang yang<br /> berada di dalam van tersebut geram. . . Cakka menatap sepasang suami istri di<br /> hadapannya dengan mata menyala. Ia<br /> kepalkan tangannya dengan gigi<br /> menggeretak. “ Danar cepat kamu bawa tuan muda ke<br /> kamarnya untuk berganti pakaian “. Seru<br /> pria paruhbaya menatap Cakka dingin. “ aku gak mau “. Ucap Cakka menepis<br /> tangan Danar. Pria paruhbaya yang tak<br /> lain adalah papa Cakka itu menatapnya<br /> tajam. “ kamu apa-apaan, huh ? acara<br /> pertunangan kamu tinggal beberapa jam<br /> lagi. Jangan bikin malu keluarga “. Ucap<br /> pria itu marah. “ aku ? papa gak salah. Justru papa yang<br /> buat keluarga kita malu pa ? “ Plak. sebuah tamparan mendarat di pipi<br /> putih Cakka. Alvin yang berdiri tak jauh di<br /> samping papanya itu pun menatap kakak<br /> satu-satunya itu cemas. “ jaga omongan kamu Cakka “. Ucap pria<br /> itu lagi dan dengan isyarat ia pun<br /> menyuruh anak buahnya membawa<br /> Cakka kemarnya. *** Agni menatap sosok pemuda yang berdiri<br /> di hadapannya tak percaya. Antara<br /> senang dan bingung. Sementara Cakka<br /> masih menunjukkan tatapan penuh<br /> amarah untuk Agni. Tak lama pak<br /> Ferdinan pun terlihat di atas panggung kecil dan tersenyum pada seluruh<br /> undangan. “ selamat malam semua, malam ini<br /> adalah hari spesial cucu saya. Agiezkka<br /> Ferdinan “. Ucap pak Ferdinan dan<br /> tersenyum kearah Agni. “ malam ini cucu<br /> saya akan bertunangan dengan Cakka.<br /> Cakka Andrian “. Agni seketika melotot saat sang kakek menyerukan nama<br /> Cakka. Di liriknya Cakka sesaat. Tampak<br /> Cakka yang terlihat seakan menahan<br /> emosinya. Sebisa mungkin Agni menahan<br /> diri untuk tidak mendekat kearah Cakka. “ gak mungkin.. kakek ngomong apa sih ?<br /> “. Seru Agni tanpa sadar dan<br /> membuatnya kini menjadi pusat<br /> perhatian. Agni memandang<br /> sekelilingnya ragu sesaat ia pun<br /> menunduk . . . Cakka dan Agni kini berdiri berhadapan.<br /> Agni menahan nafas dan tampak<br /> bergidik melihat tatapan menakutkan<br /> yang Cakka berikan. Agni menutup<br /> matanya sesaat. Bayangan akan Cakka<br /> yang selalu menatapnya lembut kini bergerak di kepalanya. Jujur. Agni sangat<br /> merindukan tatapan mata itu. Agni<br /> menarik nafas sejenak, pelahan Agni pun<br /> berjalan mundur dan menarik jemarinya<br /> yang sedetik lalu sudah di genggam<br /> Cakka. Ferdinan dan juga orang tua Cakka tampak terkejut. “ Agni, apa yang kamu lakukan ? “. Seru<br /> ferdinan menatap cucunya itu tajam.<br /> Agni tampak tersenyum berusaha<br /> menahan tangisnya. “ kakek.. Agni gak mau tunangan karena<br /> terpaksa. Agni gak mau ikatan ini<br /> didasari karena uang. Maaf kek. Agni gak<br /> bisa tunangan sama orang yang gak cinta<br /> sama Agni “. Ucap Agni sesaat kemudian<br /> dan kontan membuat semua undangan ternganga. Agni melirik Cakka. cakka pun<br /> tampak menatap Agni dengan dahi<br /> berkerut. “ maksud kamu apa ? “. Tanya Ferdinan. “ anggap hutang on Andrian lunas kek.<br /> Jangan paksa Cakka tunangan sama aku<br /> Cuma karena uang. Aku sadar sekarang,<br /> cinta yang di pandang karena nilai uang<br /> gak akan bertahan lama “. Ujar Agni dan<br /> tersenyum tipis menatap Cakka. “ maaf kek ! “. Agni meletakkan cincinnya<br /> kembali di dalam kotak dan tak lama ia<br /> pun berlalu. *** Agni menghapus air matanya kasar. Ia<br /> tersenyum kecut. Agni masih sangat<br /> ingat saat pertama kali ia melihatkan<br /> daftar keriteria pacar idamannya pada<br /> sahabat-sahabatnya. Yah, Agni yang<br /> dahulu juga mementingkan uang dan kedudukan. Setelah mengenal Cakka<br /> sebagai pemuda biasa lama-lama<br /> pemikiran itu menghilang. “huhhh… ujung-ujungnya jatuh cinta<br /> sama orang tajir juga gw “. Gumam Agni<br /> dan memangku dagunya. “ eghem.. orang kaya yang terancam<br /> bangkrut “. “ Cakka ! “. Agni mendongakkan<br /> kepalanya. Cakka tampak tersenyum dan<br /> mendudukkan dirinya tepat di samping<br /> Agni. Keduanya kembali melemparkan<br /> tatapan jauh menatap gedung-gedung<br /> yang terlihat jauh di bawah mereka. “ aku boleh tanya sesuatu ? “. Cakka<br /> mulai buka suara. Agni pun<br /> memberanikan diri melirik kearah Cakka. “ kenapa kamu batalin pertunangan ? “. “huh ? “. Agni tampak melebarkan<br /> matanya saat mendengar pertanyaan<br /> Cakka itu. Ia tampak berfikir. “ hemmm… aku gak mau tunangan kalau<br /> Cuma terpaksa “. Ucap Agni dan menatap<br /> Cakka lekat. Cakka terdiam. Sesaat<br /> tatapan matanya kembali hangat. Agni<br /> pun tersenyum melihatnya. “ Cakka ? “. “ ya ? “. “kenapa kamu tadi lihat aku kayak mau<br /> marah gitu ? terus… kemaren juga kamu<br /> bentak-bentak aku ? “. Cakka tampak<br /> menunduk. Sesaat ia pun mengangkat<br /> wajahnya dan menatap Agni lekat. “ huhhhh…aku minta maaf. Aku juga gak<br /> mau tunangan Cuma karena uang. Karena<br /> aku… “.ucap Cakka dan memberanikan<br /> diri meraih jemari Agni. Agni tampak<br /> tersentak. Di tatapnya Cakka tepat di<br /> kedua matanya. “karena aku udah jatuh cinta dari<br /> pertama ketemu kamu “. “ huh ? “. Agni menganga lebar menatap<br /> Cakka tak percaya. Cakka pun tampak<br /> terkekeh dan mengacak rambut Agni<br /> penuh sayang. “ kamu tau gak. Waktu kamu di depan<br /> mesin minuman, aku udah suka sama<br /> kamu… kamu lucu “. Terang Cakka dan<br /> melingkarkan satu tangannya di<br /> pinggang Agni. “ oh iya. Tunggu, kalau kamu anak om<br /> Andrian, kenapa kamu bisa di jalanan ? “.<br /> Tanya Agni penasaran. “ aku kabur. Aku udah tau soal<br /> pertunangan itu, dan waktu aku dengar<br /> cerita soal kamu suka sama Alvin, adik<br /> aku. Aku jadi ngerasa… “ “ Alvin adik kamu ? “. Tanya Agni kaget.<br /> Cakka pun mengangguk. “ huh.. pantes kalian mirip “. Gumam Agni<br /> dan kembali melempar tatapannya lurus<br /> kedepan. “ Agni !! “. Cakka kembali menghadapkan<br /> Agni kearahnya. agni tampak menaikan<br /> satu alisnya bingung. “ apa kamu… masih suka sama Alvin ?”.<br /> tanya Cakka lirih. Agni tampak<br /> tersenyum. Di rengkuhnya kedua pipi<br /> Cakka dan di tatapnya kedua mata coklat<br /> itu lekat. “ setelah aku pikir-pikir.. aku Cuma<br /> kagum sama Alvin. Yang aku cinta itu<br /> kamu “. “ tapi mata aku gak hitam loh. Terus, aku<br /> juga gak suka model rambut kayak Alvin<br /> “. Ucap Cakka dan menatap Agni jahil. Agni tampak terkikik. Sesaat kemudian<br /> Agni pun memeluk Cakka erat. “ cinta<br /> gak butuh alasan. Soal keriteria, yang<br /> baik dan apa adanya juga udah cukup “.<br /> Ucap Agni dalam pelukan Cakka. cakka<br /> pun mengelus punggung Agni lembut dan mengecup puncak kepalanya lama. Tanpa keduanya sadari beberapa pasang<br /> mata tampak tersenyum melihat mereka.<br /> Termasuk Ferdinan dan kedua orang tua<br /> Cakka. “ sepertinya kita harus memberikan<br /> mereka kesempatan buat saling<br /> mengenal dulu pak “. Ucap Andrian pelan<br /> menatap anaknya yang keras kepala itu<br /> sembari tersenyum. Ferdinan pun tampak<br /> mengangguk dan menepuk pundak Andrian pelan. _FIN_<b:if cond='data:blog.pageType == "item"'><br /> <title><data:blog.pageName/> |<br /> <data:blog.title/>


<data:blog.pageName/> |<br /> <data:blog.title/>

<data:blog.pageTitle/></ title></b:if></b:if> <div style='clear: both;'></div> </div> <div class='post-footer'> <div class='post-footer-line post-footer-line-1'> <span class='post-author vcard'> Diposting oleh <span class='fn' itemprop='author' itemscope='itemscope' itemtype='http://schema.org/Person'> <meta content='https://www.blogger.com/profile/07564143798478586039' itemprop='url'/> <a class='g-profile' href='https://www.blogger.com/profile/07564143798478586039' rel='author' title='author profile'> <span itemprop='name'>Unknown</span> </a> </span> </span> <span class='post-timestamp'> di <meta content='http://intannkumaladewi.blogspot.com/2013/10/ideal-boyfriend-cagni-cakkaagni.html' itemprop='url'/> <a class='timestamp-link' href='https://intannkumaladewi.blogspot.com/2013/10/ideal-boyfriend-cagni-cakkaagni.html' rel='bookmark' title='permanent link'><abbr class='published' itemprop='datePublished' title='2013-10-15T05:05:00-07:00'>05.05</abbr></a> </span> <span class='post-comment-link'> <a class='comment-link' href='https://intannkumaladewi.blogspot.com/2013/10/ideal-boyfriend-cagni-cakkaagni.html#comment-form' onclick=''> Tidak ada komentar: </a> </span> <span class='post-icons'> <span class='item-control blog-admin pid-381155862'> <a href='https://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2506546840609844289&postID=1301486759647048842&from=pencil' title='Edit Entri'> <img alt='' class='icon-action' height='18' src='https://resources.blogblog.com/img/icon18_edit_allbkg.gif' width='18'/> </a> </span> </span> <div class='post-share-buttons goog-inline-block'> <a class='goog-inline-block share-button sb-email' href='https://www.blogger.com/share-post.g?blogID=2506546840609844289&postID=1301486759647048842&target=email' target='_blank' title='Kirimkan Ini lewat Email'><span class='share-button-link-text'>Kirimkan Ini lewat Email</span></a><a class='goog-inline-block share-button sb-blog' href='https://www.blogger.com/share-post.g?blogID=2506546840609844289&postID=1301486759647048842&target=blog' onclick='window.open(this.href, "_blank", "height=270,width=475"); return false;' target='_blank' title='BlogThis!'><span class='share-button-link-text'>BlogThis!</span></a><a class='goog-inline-block share-button sb-twitter' href='https://www.blogger.com/share-post.g?blogID=2506546840609844289&postID=1301486759647048842&target=twitter' target='_blank' title='Bagikan ke X'><span class='share-button-link-text'>Bagikan ke X</span></a><a class='goog-inline-block share-button sb-facebook' href='https://www.blogger.com/share-post.g?blogID=2506546840609844289&postID=1301486759647048842&target=facebook' onclick='window.open(this.href, "_blank", "height=430,width=640"); return false;' target='_blank' title='Berbagi ke Facebook'><span class='share-button-link-text'>Berbagi ke Facebook</span></a><a class='goog-inline-block share-button sb-pinterest' href='https://www.blogger.com/share-post.g?blogID=2506546840609844289&postID=1301486759647048842&target=pinterest' target='_blank' title='Bagikan ke Pinterest'><span class='share-button-link-text'>Bagikan ke Pinterest</span></a> </div> </div> <div class='post-footer-line post-footer-line-2'> <span class='post-labels'> </span> </div> <div class='post-footer-line post-footer-line-3'> <span class='post-location'> </span> </div> </div> </div> </div> </div></div> </div> <div class='blog-pager' id='blog-pager'> <span id='blog-pager-newer-link'> <a class='blog-pager-newer-link' href='https://intannkumaladewi.blogspot.com/search?updated-max=2014-05-02T21:54:00-07:00&max-results=7&reverse-paginate=true' id='Blog1_blog-pager-newer-link' title='Postingan Lebih Baru'>Postingan Lebih Baru</a> </span> <span id='blog-pager-older-link'> <a class='blog-pager-older-link' href='https://intannkumaladewi.blogspot.com/search?updated-max=2013-10-15T05:05:00-07:00&max-results=7' id='Blog1_blog-pager-older-link' title='Postingan Lama'>Postingan Lama</a> </span> <a class='home-link' href='https://intannkumaladewi.blogspot.com/'>Beranda</a> </div> <div class='clear'></div> <div class='blog-feeds'> <div class='feed-links'> Langganan: <a class='feed-link' href='https://intannkumaladewi.blogspot.com/feeds/posts/default' target='_blank' type='application/atom+xml'>Komentar (Atom)</a> </div> </div> </div></div> </div> </div> <div class='column-left-outer'> <div class='column-left-inner'> <aside> </aside> </div> </div> <div class='column-right-outer'> <div class='column-right-inner'> <aside> <div class='sidebar section' id='sidebar-right-1'><div class='widget BlogArchive' data-version='1' id='BlogArchive1'> <h2>Arsip Blog</h2> <div class='widget-content'> <div id='ArchiveList'> <div id='BlogArchive1_ArchiveList'> <ul class='hierarchy'> <li class='archivedate collapsed'> <a class='toggle' href='javascript:void(0)'> <span class='zippy'> ►  </span> </a> <a class='post-count-link' href='https://intannkumaladewi.blogspot.com/2015/'> 2015 </a> <span class='post-count' dir='ltr'>(2)</span> <ul class='hierarchy'> <li class='archivedate collapsed'> <a class='toggle' href='javascript:void(0)'> <span class='zippy'> ►  </span> </a> <a class='post-count-link' href='https://intannkumaladewi.blogspot.com/2015/11/'> November </a> <span class='post-count' dir='ltr'>(1)</span> </li> </ul> <ul class='hierarchy'> <li class='archivedate collapsed'> <a class='toggle' href='javascript:void(0)'> <span class='zippy'> ►  </span> </a> <a class='post-count-link' href='https://intannkumaladewi.blogspot.com/2015/02/'> Februari </a> <span class='post-count' dir='ltr'>(1)</span> </li> </ul> </li> </ul> <ul class='hierarchy'> <li class='archivedate collapsed'> <a class='toggle' href='javascript:void(0)'> <span class='zippy'> ►  </span> </a> <a class='post-count-link' href='https://intannkumaladewi.blogspot.com/2014/'> 2014 </a> <span class='post-count' dir='ltr'>(15)</span> <ul class='hierarchy'> <li class='archivedate collapsed'> <a class='toggle' href='javascript:void(0)'> <span class='zippy'> ►  </span> </a> <a class='post-count-link' href='https://intannkumaladewi.blogspot.com/2014/11/'> November </a> <span class='post-count' dir='ltr'>(1)</span> </li> </ul> <ul class='hierarchy'> <li class='archivedate collapsed'> <a class='toggle' href='javascript:void(0)'> <span class='zippy'> ►  </span> </a> <a class='post-count-link' href='https://intannkumaladewi.blogspot.com/2014/09/'> September </a> <span class='post-count' dir='ltr'>(1)</span> </li> </ul> <ul class='hierarchy'> <li class='archivedate collapsed'> <a class='toggle' href='javascript:void(0)'> <span class='zippy'> ►  </span> </a> <a class='post-count-link' href='https://intannkumaladewi.blogspot.com/2014/08/'> Agustus </a> <span class='post-count' dir='ltr'>(1)</span> </li> </ul> <ul class='hierarchy'> <li class='archivedate collapsed'> <a class='toggle' href='javascript:void(0)'> <span class='zippy'> ►  </span> </a> <a class='post-count-link' href='https://intannkumaladewi.blogspot.com/2014/07/'> Juli </a> <span class='post-count' dir='ltr'>(2)</span> </li> </ul> <ul class='hierarchy'> <li class='archivedate collapsed'> <a class='toggle' href='javascript:void(0)'> <span class='zippy'> ►  </span> </a> <a class='post-count-link' href='https://intannkumaladewi.blogspot.com/2014/06/'> Juni </a> <span class='post-count' dir='ltr'>(3)</span> </li> </ul> <ul class='hierarchy'> <li class='archivedate collapsed'> <a class='toggle' href='javascript:void(0)'> <span class='zippy'> ►  </span> </a> <a class='post-count-link' href='https://intannkumaladewi.blogspot.com/2014/05/'> Mei </a> <span class='post-count' dir='ltr'>(3)</span> </li> </ul> <ul class='hierarchy'> <li class='archivedate collapsed'> <a class='toggle' href='javascript:void(0)'> <span class='zippy'> ►  </span> </a> <a class='post-count-link' href='https://intannkumaladewi.blogspot.com/2014/04/'> April </a> <span class='post-count' dir='ltr'>(3)</span> </li> </ul> <ul class='hierarchy'> <li class='archivedate collapsed'> <a class='toggle' href='javascript:void(0)'> <span class='zippy'> ►  </span> </a> <a class='post-count-link' href='https://intannkumaladewi.blogspot.com/2014/02/'> Februari </a> <span class='post-count' dir='ltr'>(1)</span> </li> </ul> </li> </ul> <ul class='hierarchy'> <li class='archivedate expanded'> <a class='toggle' href='javascript:void(0)'> <span class='zippy toggle-open'> ▼  </span> </a> <a class='post-count-link' href='https://intannkumaladewi.blogspot.com/2013/'> 2013 </a> <span class='post-count' dir='ltr'>(16)</span> <ul class='hierarchy'> <li class='archivedate collapsed'> <a class='toggle' href='javascript:void(0)'> <span class='zippy'> ►  </span> </a> <a class='post-count-link' href='https://intannkumaladewi.blogspot.com/2013/11/'> November </a> <span class='post-count' dir='ltr'>(3)</span> </li> </ul> <ul class='hierarchy'> <li class='archivedate expanded'> <a class='toggle' href='javascript:void(0)'> <span class='zippy toggle-open'> ▼  </span> </a> <a class='post-count-link' href='https://intannkumaladewi.blogspot.com/2013/10/'> Oktober </a> <span class='post-count' dir='ltr'>(2)</span> <ul class='posts'> <li><a href='https://intannkumaladewi.blogspot.com/2013/10/rify-rioify.html'>:::Rify::: *RioIfy*</a></li> <li><a href='https://intannkumaladewi.blogspot.com/2013/10/ideal-boyfriend-cagni-cakkaagni.html'>:::Ideal Boyfriend::: ~> Cagni *CakkaAgni*</a></li> </ul> </li> </ul> <ul class='hierarchy'> <li class='archivedate collapsed'> <a class='toggle' href='javascript:void(0)'> <span class='zippy'> ►  </span> </a> <a class='post-count-link' href='https://intannkumaladewi.blogspot.com/2013/09/'> September </a> <span class='post-count' dir='ltr'>(3)</span> </li> </ul> <ul class='hierarchy'> <li class='archivedate collapsed'> <a class='toggle' href='javascript:void(0)'> <span class='zippy'> ►  </span> </a> <a class='post-count-link' href='https://intannkumaladewi.blogspot.com/2013/08/'> Agustus </a> <span class='post-count' dir='ltr'>(8)</span> </li> </ul> </li> </ul> </div> </div> <div class='clear'></div> </div> </div><div class='widget Profile' data-version='1' id='Profile1'> <h2>♫Beliebers♫</h2> <div class='widget-content'> <dl class='profile-datablock'> <dt class='profile-data'> <a class='profile-name-link g-profile' href='https://www.blogger.com/profile/07564143798478586039' rel='author' style='background-image: url(//www.blogger.com/img/logo-16.png);'> Unknown </a> </dt> </dl> <a class='profile-link' href='https://www.blogger.com/profile/07564143798478586039' rel='author'>Lihat profil lengkapku</a> <div class='clear'></div> </div> </div></div> </aside> </div> </div> </div> <div style='clear: both'></div> <!-- columns --> </div> <!-- main --> </div> </div> <div class='main-cap-bottom cap-bottom'> <div class='cap-left'></div> <div class='cap-right'></div> </div> </div> <footer> <div class='footer-outer'> <div class='footer-cap-top cap-top'> <div class='cap-left'></div> <div class='cap-right'></div> </div> <div class='fauxborder-left footer-fauxborder-left'> <div class='fauxborder-right footer-fauxborder-right'></div> <div class='region-inner footer-inner'> <div class='foot no-items section' id='footer-1'></div> <table border='0' cellpadding='0' cellspacing='0' class='section-columns columns-2'> <tbody> <tr> <td class='first columns-cell'> <div class='foot no-items section' id='footer-2-1'></div> </td> <td class='columns-cell'> <div class='foot no-items section' id='footer-2-2'></div> </td> </tr> </tbody> </table> <!-- outside of the include in order to lock Attribution widget --> <div class='foot section' id='footer-3' name='Footer'><div class='widget Attribution' data-version='1' id='Attribution1'> <div class='widget-content' style='text-align: center;'> Tema Jendela Gambar. Diberdayakan oleh <a href='https://www.blogger.com' target='_blank'>Blogger</a>. </div> <div class='clear'></div> </div></div> </div> </div> <div class='footer-cap-bottom cap-bottom'> <div class='cap-left'></div> <div class='cap-right'></div> </div> </div> </footer> <!-- content --> </div> </div> <div class='content-cap-bottom cap-bottom'> <div class='cap-left'></div> <div class='cap-right'></div> </div> </div> </div> <script type='text/javascript'> window.setTimeout(function() { document.body.className = document.body.className.replace('loading', ''); }, 10); </script> <script type="text/javascript" src="https://www.blogger.com/static/v1/widgets/2470821300-widgets.js"></script> <script type='text/javascript'> window['__wavt'] = 'APlU3lx-oz8U8qyJIxPTRHSkBL2A:1774662468054';_WidgetManager._Init('//www.blogger.com/rearrange?blogID\x3d2506546840609844289','//intannkumaladewi.blogspot.com/2013/10/','2506546840609844289'); _WidgetManager._SetDataContext([{'name': 'blog', 'data': {'blogId': '2506546840609844289', 'title': 'Intann Kumala Dewi', 'url': 'https://intannkumaladewi.blogspot.com/2013/10/', 'canonicalUrl': 'http://intannkumaladewi.blogspot.com/2013/10/', 'homepageUrl': 'https://intannkumaladewi.blogspot.com/', 'searchUrl': 'https://intannkumaladewi.blogspot.com/search', 'canonicalHomepageUrl': 'http://intannkumaladewi.blogspot.com/', 'blogspotFaviconUrl': 'https://intannkumaladewi.blogspot.com/favicon.ico', 'bloggerUrl': 'https://www.blogger.com', 'hasCustomDomain': false, 'httpsEnabled': true, 'enabledCommentProfileImages': true, 'gPlusViewType': 'FILTERED_POSTMOD', 'adultContent': false, 'analyticsAccountNumber': '', 'encoding': 'UTF-8', 'locale': 'id', 'localeUnderscoreDelimited': 'id', 'languageDirection': 'ltr', 'isPrivate': false, 'isMobile': false, 'isMobileRequest': false, 'mobileClass': '', 'isPrivateBlog': false, 'isDynamicViewsAvailable': true, 'feedLinks': '\x3clink rel\x3d\x22alternate\x22 type\x3d\x22application/atom+xml\x22 title\x3d\x22Intann Kumala Dewi - Atom\x22 href\x3d\x22https://intannkumaladewi.blogspot.com/feeds/posts/default\x22 /\x3e\n\x3clink rel\x3d\x22alternate\x22 type\x3d\x22application/rss+xml\x22 title\x3d\x22Intann Kumala Dewi - RSS\x22 href\x3d\x22https://intannkumaladewi.blogspot.com/feeds/posts/default?alt\x3drss\x22 /\x3e\n\x3clink rel\x3d\x22service.post\x22 type\x3d\x22application/atom+xml\x22 title\x3d\x22Intann Kumala Dewi - Atom\x22 href\x3d\x22https://www.blogger.com/feeds/2506546840609844289/posts/default\x22 /\x3e\n', 'meTag': '', 'adsenseHostId': 'ca-host-pub-1556223355139109', 'adsenseHasAds': false, 'adsenseAutoAds': false, 'boqCommentIframeForm': true, 'loginRedirectParam': '', 'view': '', 'dynamicViewsCommentsSrc': '//www.blogblog.com/dynamicviews/4224c15c4e7c9321/js/comments.js', 'dynamicViewsScriptSrc': '//www.blogblog.com/dynamicviews/400d273b28510d36', 'plusOneApiSrc': 'https://apis.google.com/js/platform.js', 'disableGComments': true, 'interstitialAccepted': false, 'sharing': {'platforms': [{'name': 'Dapatkan link', 'key': 'link', 'shareMessage': 'Dapatkan link', 'target': ''}, {'name': 'Facebook', 'key': 'facebook', 'shareMessage': 'Bagikan ke Facebook', 'target': 'facebook'}, {'name': 'BlogThis!', 'key': 'blogThis', 'shareMessage': 'BlogThis!', 'target': 'blog'}, {'name': 'X', 'key': 'twitter', 'shareMessage': 'Bagikan ke X', 'target': 'twitter'}, {'name': 'Pinterest', 'key': 'pinterest', 'shareMessage': 'Bagikan ke Pinterest', 'target': 'pinterest'}, {'name': 'Email', 'key': 'email', 'shareMessage': 'Email', 'target': 'email'}], 'disableGooglePlus': true, 'googlePlusShareButtonWidth': 0, 'googlePlusBootstrap': '\x3cscript type\x3d\x22text/javascript\x22\x3ewindow.___gcfg \x3d {\x27lang\x27: \x27id\x27};\x3c/script\x3e'}, 'hasCustomJumpLinkMessage': false, 'jumpLinkMessage': 'Baca selengkapnya', 'pageType': 'archive', 'pageName': 'Oktober 2013', 'pageTitle': 'Intann Kumala Dewi: Oktober 2013'}}, {'name': 'features', 'data': {}}, {'name': 'messages', 'data': {'edit': 'Edit', 'linkCopiedToClipboard': 'Tautan disalin ke papan klip!', 'ok': 'Oke', 'postLink': 'Tautan Pos'}}, {'name': 'template', 'data': {'name': 'Picture Window', 'localizedName': 'Jendela Gambar', 'isResponsive': false, 'isAlternateRendering': false, 'isCustom': false, 'variant': 'open', 'variantId': 'open'}}, {'name': 'view', 'data': {'classic': {'name': 'classic', 'url': '?view\x3dclassic'}, 'flipcard': {'name': 'flipcard', 'url': '?view\x3dflipcard'}, 'magazine': {'name': 'magazine', 'url': '?view\x3dmagazine'}, 'mosaic': {'name': 'mosaic', 'url': '?view\x3dmosaic'}, 'sidebar': {'name': 'sidebar', 'url': '?view\x3dsidebar'}, 'snapshot': {'name': 'snapshot', 'url': '?view\x3dsnapshot'}, 'timeslide': {'name': 'timeslide', 'url': '?view\x3dtimeslide'}, 'isMobile': false, 'title': 'Intann Kumala Dewi', 'description': '', 'url': 'https://intannkumaladewi.blogspot.com/2013/10/', 'type': 'feed', 'isSingleItem': false, 'isMultipleItems': true, 'isError': false, 'isPage': false, 'isPost': false, 'isHomepage': false, 'isArchive': true, 'isLabelSearch': false, 'archive': {'year': 2013, 'month': 10, 'rangeMessage': 'Menampilkan postingan dari Oktober, 2013'}}}]); _WidgetManager._RegisterWidget('_NavbarView', new _WidgetInfo('Navbar1', 'navbar', document.getElementById('Navbar1'), {}, 'displayModeFull')); _WidgetManager._RegisterWidget('_HeaderView', new _WidgetInfo('Header1', 'header', document.getElementById('Header1'), {}, 'displayModeFull')); _WidgetManager._RegisterWidget('_BlogView', new _WidgetInfo('Blog1', 'main', document.getElementById('Blog1'), {'cmtInteractionsEnabled': false, 'lightboxEnabled': true, 'lightboxModuleUrl': 'https://www.blogger.com/static/v1/jsbin/2626028960-lbx.js', 'lightboxCssUrl': 'https://www.blogger.com/static/v1/v-css/828616780-lightbox_bundle.css'}, 'displayModeFull')); _WidgetManager._RegisterWidget('_BlogArchiveView', new _WidgetInfo('BlogArchive1', 'sidebar-right-1', document.getElementById('BlogArchive1'), {'languageDirection': 'ltr', 'loadingMessage': 'Memuat\x26hellip;'}, 'displayModeFull')); _WidgetManager._RegisterWidget('_ProfileView', new _WidgetInfo('Profile1', 'sidebar-right-1', document.getElementById('Profile1'), {}, 'displayModeFull')); _WidgetManager._RegisterWidget('_AttributionView', new _WidgetInfo('Attribution1', 'footer-3', document.getElementById('Attribution1'), {}, 'displayModeFull')); </script> </body> </html>