Selasa, 15 Oktober 2013

:::Ideal Boyfriend::: ~> Cagni *CakkaAgni*

“ nih ! “. “ buseeeet. Banyak bener “. “ loe yakin nih ? “. “ yapz !! “. “ gila agh loe “. Gadis manis ini tampak menggidikkan
bahu tak peduli menatap ketiga rekannya
dengan senyum jahilnya. Sementara
ketiga sahabatnya itu tampak menghela
nafas sembari menggeleng kecil mentap
sahabat kental mereka ini tak percaya. “ Agni. Apa yang ini juga masuk dalam
keriteria loe ? “. Tanya seorang gadis
berwajah tirus menunjuk satu kalimat
pada daftar yang saat ini ada di
tangannya. Gadis bernama Agni itu
mengangguk semangat dan mencomot nuget goreng di depannya. “ sumpah ya, kamu ini luar biasa banget
“. Seorang gadis berkacamata menaik
turun kan duduk kacamatanya menatap
selembar kertas panjang di genggaman
gadis berwajah tirus itu bengong. “ loe semuakan tau, gw ini Miss. Perfect “.
Ujar Agni dan memainkan kerah
seragamnya. “ perfect si perfect. Tapi yah gak
segininya juga kali, Ni “. Gadis berwajah
Chubby mengambil alih daftar yang
berada di tangan Ify –gadis berwajah
tirus- dan membuka lembarannya. Sesaat
tiga gadis itu melongo dan menatap Agni cengo. Ketiganya tampak menghela nafas
dan menyeringai garing. *** “ kamu gak salah, Ni ? “. “ kenapa sih ? “. Agni menghentikan
langkahnya dan menatap Nova –gadis
berkacamata- dengan dahi berkerut. Nova tampak berfikir sejenak, menatap
Agni lekat. Agni yang merasa aneh
dengan tatapan sahabatnya itu pun
menaikan satu alisnya bingung. Nova
lagi-lagi hanya mampu menghela nafas
dan kembali mengambil daftar tulisan Agni dari dalam saku jas seragamnya. “ ganteng, cool, keren, tampan, gak malu-
maluin… “. Nova menarik nafas sejenak
dan menatap Agni lekat kemudian
kembali melanjutkan bacaannya. “ putih,
mata hitam, potongan rambut kayak
Touma ? “. Nova mengerutkan dahinya bingung dan melirik Agni sekilas. “ hehehe. Itu loh, tokoh komik karya
Shiiba Nana “. Ucap Agni sambil nyengir
Gaje. Nova berdecak kecil sambil geleng-
geleng kepala tak mengerti, kembali di
liriknya daftar terakhir yang tetulis di
kertas milik Agni itu. “ tajir ? “. “ aduuuuh. Udah ah. Ngapain sih di bahas
lagi “. Seru Agni dan meraih daftar
miliknya dan mengembungkan pipinya
lucu. Nova tampak terkikik kecil saat
melihat sahabatnya ini menghentakkan
kaki di lantai kesal dan berniat beranjak. ‘bruuuk’. “ auh !! “. Agni mengadu saat seseorang
yang tiba-tiba berada di belakangnya,
dan tak sengaja bertabrakan dengannya.
Agni mendongakkan kepalanya, menatap
pemuda di hadapannya itu tak berkedip. “ ahh. Alvin ? kamu sekolah disini juga ? “.
Tanya nova menatap sosok pemuda
bernama Alvin itu terkejut. Agni tampak
mengedipkan matanya dan sedikit
melirik kearah Nova dan pemuda yang
tampak tengah tersenyum manis dan mengangguk kecil ke arah Nova
bergantian. “ huaaa. Kenapa gak kasih kabar ? aku
senang lihat kamu “. Nova tersenyum
antusias dan berlari kecil mendekati
Alvin. Pemuda itu hanya mengangguk dan
mengacak sedikit rambut poni Nova. Agni
tampak cengo dan mengembungkan pipinya merasa tak di perdulikan. “ oh iya. Alvin, kenalin… ini Agni sahabat
aku. Agni, kenalin… ini Alvin. Dia ini anak
rekan bisnis papa aku. Kita udah kenal
dari kecil. Alvin dulu sekolah di singapura
“. Terang Nova panjang lebar
memperkenalkan dua manusia di hadapannya itu satu persatu. Alvin
tersenyum dan mengangguk kearah Agni. “ aku mau ke kantor kepala sekolah “.
Ucap Alvin sesaat kemudian dan
mengarahkan pandangannya kembali
pada Nova. “ oh. Bareng aja yuk !! “. Seru Nova dan
menarik lengan Alvin. Pemuda itu pun
tersenyum dan mengangguk. Agni
tampak tersenyum misterius menatap ke
pergian Alvin dan Nova saat itu dan
kembali mengamati kertas yang ada di tangannya dengan senyum mengembang. *** Agni menedarkan pandangannya
keseluruh penjuru sekolah dengan
tampang kesal. Pasalnya sudah hampir 30
menit dia menunggu supirnya, tapi belum
kunjung datang. Agni menghela nafas
berat. Dia tidak perduli kalau-kalau dia harus bertemu dengan orang jahat lagi.
Dengan mantap Agni pun melajukan
kakinya keluar dari gedung sekolahnya. Sudah hampir 10 menit Agni berjalan tak
tentu arah. Sesaat ia tersadar dan
kembali mengedarkan pandangannya
kesegala arah. Rauh wajahnya mulai
tampak khawatir. Ini baru yang pertama
kalinya dia jalan-jalan seperti ini sendirian. Agni melirik ke arah mesin
minuman. Sesaat ia mengeluarkan
sebuah benda persegi dari dalam sakunya
dan mencari celah untuk menggesekan
benda itu di mesin tersebut. “ igh.. kok gak bisa sih ? “. Seru Agni dan
menendang mesin minuman itu geram. ‘klek’ Seorang pemuda tampak berjongkok dan
mengambil sekaleng softdrink dari mesin
minuman di depan Agni. Agni tampak
melongo, memandang pemuda dan mesin
minuman itu bergantian. Dengan
tampang manyun Agni pun kembali mengantongi kartu kreditnya ke saku jas
sekolahnya. “ huh.. ini, pakai koin. Sampai hari raya
monyet kalau pakai kreditcard yah gak
bakal keluar “. Ucap pemuda itu tiba-tiba
dan menyodorkan softdrink yang baru ia
ambil kearah Agni. Agni mengerutkan
dahinya bingung. “ kamu haus kan ? “. Tanya pemuda itu
lagi. Agni mengangguk ragu. Pemuda
tersebut tersenyum dan kembali
menyodorkan kaleng softdrinknya. Agni
menatap pemuda dengan mata coklat di
depannya ini ragu dan perlahan meraih kaleng softdrink tersebut. “ terimakasih “. Ucap Agni tersenyum
kikkuk dan meneguk minumannya.
Pemuda itu sedikit menunduk dan
berlalu. *** Agni menatap tajam beberapa pegawai
di rumahnya. Pipinya tampak
mengembung pertanda kalau dia sangat
kesal. Dea, asisten sekaligus pengasuh
Agni tampak menghela nafas dan
mendekat kearah Agni. “ sebaiknya nona istirahat. Nona pasti
lelah karena seharian ini tersesat, kan ? “.
Ucap Dea lembut menatap majikannya itu
hati-hati. Agni memicingkan matanya
dan kembali menatap orang-orang yang
berdiri sejajar di hadapannya itu tajam. “ sekali ini aku maafin kalian. Tapi awas.
Kalau besok-besok telat lagi, aku bakal
pecat “. Ucap Agni tegas dan berjalan
dengan hentakan kaki kesal menuju
kamarnya. Dea tampak menggeleng kecil
dan menatap beberapa pegawai satu per satu. “ lain kali jangan di ulangi. Nona paling
tidak suka menunggu “. Ucap Dea dan
sedetik kemudian menyusul langkah
Agni. *** “WHAT !! “ “ loe gila agh, Ni “. “ tau nih. Gak deh, gw gak mau “. “ yaudah kalau gak mau bantu. Gw bisa
sendiri kok “. Ucap Agni seraya bangkit
dari duduknya. Ify dan Via tampak
menggeleng tak mengerti sementara
Nova hanya menunduk lesu mendengar
rencana sahabatnya itu. ‘brukkk’ Agni terdiam di tempat. Baru saja ia
membicarakan pemuda ini dan sekarang
dia sudah berdiri tegap di hadapan Agni.
Ify dan Via menahan nafas dan melirik
kearah Nova yang saat itu tampak tak
perduli. “ ma.. maaf yah “. Ucap Agni yang entah
kenapa tiba-tiba menjadi gugup. Pemuda
itu tampak tersenyum dan mengangguk
kecil, sesaat kemudian pemuda tersebut
pun berjalan kearah bangku tempat Agni
sedetik lalu duduk. “ nanti malam aku ke rumah kamu yah ?
“. Nova mendongakkan kepalanya
menatap pemuda yang kini duduk di
sebelahnya kaget. Ia melirik kearah Via
dan Ify yang duduk di depannya dan Agni
yang kini tampak menatapnya kesal. “ bisakan ? “. “ ah.. iya. Bisa kok “. Ucap Nova serba
salah sesaat Agni beranjak dari
tempatnya berdiri. *** “ hhuhhh.. dasar nyebelin “. Gerutu Agni
kesal dan menghentakkan kakinya di
lantai koridor kasar. Agni melirik arlogi
di pergelangan kirinya sedetik kemudian
ia kembali merengut. Agni terlihat
berfikir sejenak, tak lama sebuah senyum misterius tercetak di wajahnya. Dengan
lincah ia pun menekan beberapa nomor
yang sudah ia hapal luar kepala . “ Dea. Tolong kamu siapkan surat izin aku
buat dua hari. Aku lagi malas masuk
pelajaran. Dan ingat, jangan sampai
kakek tau. Mengeti “. Perintah Agni
dengan suara tegas. Seseorang bernama
Dea berseru mengiykan tak lama Agni pun memutuskan panggilannya dan
berjalan keluar sekolah. “ huh.. lihat aja. Aku pasti bisa dapat
pacar sebelum ulang tahun ke 17 minggu
depan dengan ciri-ciri seperti yang ada di
daftar ku. Lihat saja “. Gumam Agni
antusias dan melepas jas seragamnya
dan mengenakan kardigan yang selalu ia bawa di dalam tas sekolahnya. *** “ huh.. kenapa ? kenapa di sini ramai
banget ? “. Agni menunduk takut saat ia
tanpa sadar sudah memasuki pusat
perbelanjaan. Ia merasa kepalanya
pusing. Agni menelan ludahnya dengan
sukar. Ia paling tidak suka tempat ramai. Ia punya pengalaman buruk akan
tempat-tempat seperti ini. Air mata Agni
nyaris mengalir. Di peluknya tas
tangannya erat-erat sembari menatap
orang-orang yang berada di sekitarnya
takut “ hai nona !! “. Seorang pria tiba-tiba
meraih lengan Agni sontak membuatnya
terperanjat. “ lepas “. Seru Agni dan menatap pria itu
dengan tatapan dingin. “ wah.. cantik-cantik galak. Kita gak akan
apa-apain kamu kok. Mending ikut kita
aja yuk “. Ucap rekannya yang kini
hendak merangkul Agni. Dengan kasar
Agni pun menepis rangkulan sosok
tersebut. “ jangan berani-berani ya nyentuh saya “.
Agni nyaris berteriak. Membuat dua pria
di hadapannya itu melotot marah. Agni
tampak bergidik ngeri. Di tutupnya mata
rapat-rapat tak berani memandang dua
pria di hadapannya itu. Nafas Agni mulai terasa sesak. Ia merutuki diri karena
lagi-lagi melakukan kesalahan dengan
berkeliaran seperti ini sendirian. Agni
teringan sesuatu….. “ egh tunggu !! “. Seru Agni menahan
langkan pemuda itu saat hendak
beranjak. Pemuda itu menghentikan
langkahnya dan kembali menatap Agni
sembari tersenyum. “ kenapa ? “. “ hemm.. nama kamu siapa ? “. Tanya
Agni ragu. Pemuda itu mengalihkan
pandangannya dan menatap sebuah
komik yang saat itu tengah Agni
genggam. Agni pun mengikuti arah
pandangan pemuda itu. “ Kka ? “. Tanya Agni dengan dahi
berkerut. “ kurang lebih seperti itu “. Ucap pemuda
itu lembut. Agni membuka matanya perlahan. Sesaat
ia melihat sosok pemuda yang seminggu
lalu ia temui di depan mesin minuman
tengah asik melihat lihat di sebuah toko
aksesoris. Mata Agni seketika itu
berbinar. “ ayo !! “. Pria itu kini menyentak
genggamannya kasar membuat Agni
meringis. “ lepasin ! kalau gak aku teriak nih ? “.
Ancam Agni menatap dua pria di
hadapannya tajam. Kedua pria itu
tampak tersenyum remeh. “ haha. Silahkan… kalau memang ada
yang berani menolong mu nona “. Ujar
pria tersebut dan menyentuh dagu Agni.
Agni memejamkan matanya dan sesaat
kemudian membukanya seraya menarik
nafas panjang. “ Kkaaaaaaaaa ! “. Teriak Agni benar-
benar super kencang membuat kedua
pria itu mau tak mau menutup telinga
mereka. “hem ? “. Sementara pemuda yang tengah
asik di toko aksesoris itu tampak
celingak-celinguk keseluruh pelosok toko
mencari seseornag yang baru saja
memanggilnya itu. “ maaf. Apa anda mendengar suara
teriakan ? “. Tanya pemuda itu pada si
penjaga toko. Penjaga toko tersebut
mengangguk dan menunjuk jauh di
depan tokonya. Pemuda itu menoleh dan
menyipitkan matanya agar dapat melihat dengan jelas apa yang terjadi disana. “ lepasin !! “ . seru Agni lagi. “ lihat. Tidak ada yang menolong kamu
kan ? haha. Makanya nona, sebaiknya ikut
kita aja “. Ucap pria itu lagi yang kembali
berusaha merangkul Agni. Tapi gerak
pria itu gagal saat sebuah tangan yang
entah datang dari mana tiba-tiba melingkar di leher Agni, merangkulnya
erat dan menatap tajam tepat empat
bola mata di hadapannya itu bergantian.
Dua pria itu tampak menelan ludahnya
dengan sukar. Mereka sebal pada Agni
dan juga pemuda itu tak lama mereka pun beranjak. Agni merasa jantungnya berdetak sangat
kencang melebihi batas normal. Nafasnya
juga mulai ngos-ngosan. Pemuda itu
masih pada posisinya. Sedetik kemudian
ia pun melepas rangkulannya dan
menatap Agni lekat. “ terimakasih. Kamu udah nolongin aku
dua kali “. Ucap Agni dan entah kenapa ia
merasa gugup sekarang. Pemuda itu pun
hanya tersenyum dan mengangguk kecil. *** Agni menatap pemuda dengan style yang
menurut Agni terlalu simple untuk ukuran
cowok itu dengan tatapan lekat. Entah
kenapa Agni suka dengan sepasang mata
coklat milik pemuda di sampingnya ini. “ siapa nama kamu ? “. Tanya pemuda itu
akhirnya sembari menikmati icecream
mocca di genggamannya. “ Agni. Agniezkka Ferdinan “. Seru Agni
dan mengulurkan tangannya kearah
pemuda itu. “ Agniezkka Ferdinan ? “. Pemuda itu
tampak kaget. Agni mengangguk
semangat. “ hemm.. Cakka “. Ucap pemuda itu
memperkenalkan namanya. Agni pun
mengangguk sembari tersenyum
menatap wajah putih pucat di
sampingnya itu. *** Sudah hampir satu jam Agni mondar-
mandir di dalam kamarnya. Dea yang
melihat nonanya seperti itu pun merasa
heran dan memberanikan diri
menghampiri Agni yang saat ini tengah
berdiri menatap ke luar balkon kamarnya. “ nona ada masalah ?”. tanya Dea lembut.
Agni menoleh. Di tatapnya Dea yang
sudah ia anggap kakak itu lekat. “ huh… kalau misalnya aku pacaran sama
orang yang tidak sedrajat gimana ? “.
Tanya Agni yang kontan membuat Dea
melongo. “ maksud nona ? “. “ hemm.. aku ketemu sama seseorang.
Yah, baru beberapa kali sih. Tapi menurut
aku dia baik. Dan gak tau kenapa, aku
merasa nyaman sama dia “. Jelas Agni
yang kali ini duduk di atas kursi sofa di
luar balkon sembari memeluk lututnya erat. “ nona !! “. Seru Dea yang seakan tidak
setuju dengan apa yang nonanya itu
pikirkan. Agni mengangkat wajahnya dan
kembali menatap Dea. “ iyaaa. Aku ngerti Dea. Itu tidak
mungkin, kan ? “. Seru Agni lirih dan
beranjak ketempat tidurnya. Ia rebahkan
tubuhnya dan menarik selimut lembut itu
sampai menutupi seluruh badannya. Dea
tersenyum kecut dan sesaat kemudia ia pun beranjak. *** Agni menatap kertas di genggamannya
erat. ia tatap beberapa orang yang saat
itu tengah bersantai di kantin ragu. “ huh.. bisa. gw pasti bisa “. Seru Agni.
Kembali ia masukan kertas tersebut
kedalam sakunya dan tak lama ia pun
berjalan cepat mendekati rekan-
rekannya itu. Agni berdiri tegak di samping meja para
sahabatnya dan menatap satu sosok
lekat. Ify dan Via tampak mengerutkan
dahi mereka bingung melihat tingkah
Agni yang terlihat sangat aneh beberapa
hari ini. “ loe kenapa ? “. Tanya Ify kemudian.
Sesaat Nova pun menoleh menatap Agni
yang saat itu berdiri tepat di
belakangnya. Agni tampak menarik nafas panjang. Di
tatapnya sosok Alvin dan membuat
beberapa pasang mata di hadapannya
menatapnya bingung “ Alvin. Gw mau loe jadi pacar gw “. “ uhuk “. “ APAAA ? “. Delapan pasang mata
menatap Agni tak percaya. Terlebih Nova
yang tampak menggelengkan kepala
menatap Agni tak mengerti. Alvin
melongo. “ loe ngomong apa barusan ? “. Tanya
Alvin yang tak yakin dengan apa yang ia
dengar barusan. “ GW… MAU… LOE… JADI… PACAR GW “.
Ucap Agni penuh penekanan menatap
tepat dua manik Alvin. Via dan Ify kini
tampak menganga lebar. “ Agni, pelayan dirumah loe pada salah
masak yah ? “. Ify mulai menatap Agni
cemas. Gadis itu menggeleng dan
kembali mengalihkan pandangannya
pada Alvin. “ Ni. Kamu gak bisa dong langsung
nembak Alvin kayak gini. Kamu fikir dia
cowok apaan sih ? “. Nova menatap Agni
dingin. Entah mengapa gadis cantik ini
merasa tak suka dengan ulah sahabatnya
itu. Agni melirik Nova sesaat. Ia sedikit mencibir. Tanpa izin dari yang lain Agni
pun dengan seenaknya menarik Alvin
begitu saja. *** Alvin bengong sebengong bengongnya
saat menerima catatan Agni mengenai
cowok idamannya dan ternyata semua
kriteria itu ada di Alvin. Alvin tampak
enggeleng dan terkekek kecil. “ kenapa ketawa ? “. Tanya Agni menatap
Alvin bingung. “ gak papa. Cuma ngerasa lucu aja sama
loe. Kayak anak SD “. Ucap Alvin
seenaknya berusah menahan tawanya.
Agni cengo di bilang begitu. Di tatapnya
Alvin tajam tepat di dua manik mata
pemuda itu. “ huh… kalau loe gak mau jadi pacar gw
ya udah. Gak usah ngatai gw kayak gitu
juga “. Ketus Agni dan dengan langkah
besar beranjak dari hadapan Alvin. *** “ masih berani keluyuran sendirian ? “.
Suara seseorang mengagetkan Agni. Saat
ini gadis manis ini tengah menyendiri di
sebuah dermaga. Pandangannya lurus
menatap lekat ke tengah laut dan sedetik
kemudian mendongak melihat si pemilik suara itu sedikit kaget. “Cakka ? ngapai kamu disini ? “. Tanya
Agni dan menatap sekitarnya. “ aku kerja di dekat sini. Kamu sendiri…
ngapain disini ? “. Ucap Cakka dan
mendudukkan dirinya tepat di samping
Agni. “ nenangin diri “. Jawab Agni seadanya. “ hem ? kenapa ? “. “ banyak problem “. “ waaah. Anak SMA udah banyak
problem ? “. Cakka tampak terkikik. Dan
melempar pandangannya lurus ke depan.
Agni menoleh dan menatap Cakka
setengah kesal. “ kamu pikir Cuma orang tua kayak kamu
aja apa yang bisa punya masalah “. Ujar
Agni dan menatap Cakka kesal. Cakka
kembali terkikik. “ aku masih 20 tahun. Terlalu muda kalau
kamu panggil aku orang tua nona “. Ucap
Cakka dan mengacak rambut Agni.
Seketika Agni terdiam. Untuk kesekian
kalinya ia merasa jantungnya berdebar
kencang setiap saat cakka meletakkan tangan lebarnya di puncak kepalanya. “ hemm.. ya ya ya. Terserah deh “. Ujar
Agni berusaha menutupi kesaltingannya
dan meniup-niup poninya. “ huh… bisa cerita kamu kenapa ? “.
Tanya Cakka yang kali ini menatap Agni
serius. Agni tampak terenyum sembari
berfikir sejenak. Sesaat ia pun
mengangguk. *** “ apa ? tunangan ? “. Agni memekik keras
saat tuan Ferdinan –kakek Agni-
menjelaskan rencana pertunangan
cucunya itu tepat di acara ulang tahun ke
tujuh belasnya tiga hari lagi. Agni tampak
menatap kakeknya itu tajam. “ Agni gak mau kek. Agni bisa kok cari
pacar sendiri, gak perlu kakek jodoh-
jodohin Agni “. Ucap Agni ketus. “ huh… kakek tau. Tapi pemuda itu sesuai
dengan keriteria yang selalu kamu bilang
ke kakek. Ganteng, tampan, keren, dan
model rambut seperti….ah, tokoh komik
kesukaan kamu itu “. Jelas sang kakek
menatap cucu tersanyangnya itu lekat. Entah mengapa Agni merasa tak tertarik
lagi dengan daftar keriteria yang ia buat
itu. Pikirannya seakan-akan
mengingatkannya akan Cakka. Pemuda
yang jauh dari semua keriteria yang Agni
punya. Agni menghela nafas perlahan. “ pokoknya Agni gak mau, kek. Agni udah
punya pilihan “. Seru Agni dan sesegera
mungkin beranjak dari tempatnya duduk
dan berjalan menuju kamarnya. *** Cakka mendengus kesal saat melihat
sebuah nama tertera di layar ponselnya.
Tanpa minat Cakka pun menekan tombol
nafigasi yes dan meletakkan benda kotak
itu di telinganya. “ kenapa ? “. Tanya Cakka ketus.
Seseorang di sebrang tampak terkekeh. “…” “ ngomong yang jelas “. “ hahaha. Sorry sorry. Loe jangan marah
mulu dong kak. Ck, kapan loe pulang ? “.
Tanya seorang pemuda yang mulai
terdengar serius. Cakka merebahkan
penggungnya di sandaran kursi dan
menghela nafas berat sebelum menjawab pertannyaan saudaranya itu. “ gw gak akan pulang “. Ucap Cakka
dengan nada bicara yang mulai terdengar
dingin. “ huh… kak, ayolah. Jangan kekanakan
gitu. Ini demi kebaikan loe juga kok.
Kebaikan kita semua “. Ujar pemuda itu
lagi. Cakka mulai tampak menggeram. “ Alvin. Gw gak suka di atur. Gw mau
nentuin hidup gw sendiri. Jadi tolong..
sebaiknya loe sementara ini jangan
hubungi gw dulu “. Cakka tak
memberikan kesempatan untu k Alvin
berbicara, sesaat kemudian panggilan mereka pun terputus. Cakka menggenggam ponselnya erat.
matanya mulai memerah. Ia tidak bisa
kembali kerumah itu. Tidak akan pernah.
Dia tidak akan sudi di manfaatkan oleh
keluarganya sendiri hanya semata-mata
demi bisnis. *** “ jadi kak Cakka gak mau pulang ? “. Nova
menyodorkan sekaleng softdrink kearah
Alvin. Alvin menghela nafas dan
mengangguk sekilas. “ orang tua kamu juga salah, Vin.
Seharusnya mereka gak bersikap kayak
gitu sama kak Cakka “. Ucap Nova dan
menatap Alvin lekat. “huhhh.. iya aku tau. Tapi mau gimana
lagi, Va. Perusahaan keluarga aku udah
banyak banget minjam dana di mereka “.
Alvin tampak tertunduk lesu. Nova pun
mulai terlihat prihatin dengan
sahabatnya itu. Ia tepuk pundak Alvin pelan berusaha memberi kekuatan. “ kamu yang sabar ya. Aku yakin kok,
semua pasti baik-baik aja “. Ucap Nova
sembari tersenyum tulus. Alvin menatap
Nova, ia raih jemari gadis itu dan di
genggamnya erat. “ makasih ya, Va. Makasih banget. Kamu
memang sahabat terbaik aku “. Ujar Alvin
dengan mata berkaca. Nova pun tampak
mengangguk semangat. *** Cakka meremas sebuah koran penuh
amarah. Ia benar-benar tak habis fikir
dengan tindakan dua keluarga ini. Ia
menatap foto dirinya dan foto seorang
gadis cantik di salah satu artikel di
sebuah majalah menahan emosi. “ arrrrrrgh.. “. Cakka melempar majalah
itu kesembarang arah. Agni yang entah
sejak kapan berdiri di depan pintu
kontrakan Cakka tampak kaget melihat
pemuda itu tengah emosi. “ Cakka !! “. Seru Agni menatap Cakka
hati-hati. Cakka menoleh menatap Agni
dengan mata melebar. “ ngapain kamu kesini ? “. Tanya Cakka
dingin dan menatap Agni tajam. “ Cakka !! “. Agni menatap takut-takut
kearah Cakka yang menatapnya dengan
tatapan penuh amarah. “ hem.. aku balik deh !! “. Seru Agni dan
hendak berbalik badan. Tapi dengan
sigap Cakka meraih lengan Agni. Agni
tersenyum. Ia kembali menghadap Cakka
dan menatap pemuda itu bingung. “ kenapa ? “. Tanya Agni. Cukup lama
Agni menatap pemuda itu lekat yang
hanya menatapnya dengan tatapan yang
sulit di artikan. “ pergi !! “. Seru Cakka tiba-tiba dan
melepas genggamannya kasar. Agni
sontak kaget dan menatap pemuda itu
bingung. “ kamu kenapa sih ? “. “ aku bilang pergi “. Ucap Cakka tanpa
menatap Agni. Agni menggeleng kecil
tanda tak mengerti. Di raihnya lengan
Cakka dan di tariknya agar pemuda itu
menatapnya. “ kamu kenapa ? “. Tanya Agni lagi. Cakka
masih diam. Tatapannya masih terlihat
menyala. Sejujurnya Agni takut tatapan
itu, tatapan yang baru pertama kali Agni
dapat dari sosok Cakka. “ AKU BILANG PERGI “. Bentak Cakka dan
menghentakkan genggaman tangan
Agni. *** Agni memeluk kedua lututnya erat.
rambut indahnya yang biasa tertata rapi
kini tampak berantakan. Setelah
keajadian semalam Agni seharian tak
keluar kamar. Perlahan Agni mengangkat
wajahnya. Perutnya mulai terasa keroncongan. Karena ancamannya agar
para pelayan jangan menghampirinya
jadilah tak seorang pun ada yang berani
membawakannya makanan. Dengan
lunglai Agni bangkit dari duduknya dan
berjalan menuju dapur. “ huaaaaaaaa ! “. “ Via, Ify. Apaan sih ? “. Agni menutup
telinganya rapat-rapat saat mendengar
kedua sahabatnya itu yang tiba-tiba saja
berteriak saak melihat ia keluar kamar. “ anu… ini, loe ? loe gak salah dandan
gini ? “. Tanya Via menatap Agni yang
terkenal selalu rapi kali ini terlihat
sangat berantakan. “ sorry aku ..tel-lat ! ou oo. Ya ampun
Agniii ! “. Nova yang baru saja tiba sukses
di buat mangap. Agni hanya menggeleng
kecil menggaruk kepalanya yang tak
gatal dan meneruskan langkahnya
menuju dapur. “ pagi nona! “. “ pagi “. Ucap Agni datar. Seluruh pelayan
yang ada di rumah mewah itu pun
menatap nona mereka itu takjub. Begitu
pula Dea yang merasa jantungnya nyaris
lepas melihat putri Ferdinan seperti itu. “ loe kenapa sih ? “. Ify menatap lekat
Agni yang tengah asik melahap roti bakar
buatannya itu dan duduk di bangku
pentri. “ gak papa “. Jawab Agni seadanya. “ yakin gak papa ? “. Via menatap Agni
tak percaya. Ia hanya berdehem dan
mengangguk kecil. *** Hari ulang tahun Agni akhirnya pun tiba.
Ia tampak cantik dengan gaun ungu soft
panjang dan rambut lurus sepunggungnya
yang di gerai. Agni tampak kesal. Pipinya
lagi lagi ia gembungkan. Dea yang
melihat nonanya seperti ini pun hanya mampu menghela nafas berat. “ apa kakek beneran mau jodohin aku ? “.
Tanya Agni dan menatap Dea dari cermin
lekat. Dea tampak tersenyum dan
mengenggam bahu Agni erat. “ aku gak mau di jodohin, Ea “. Ucap Agni
dan kini menoleh, menatap tepat di
manik mata Dea. “ huh.. ini demi kebaikan nona “. Ucap
Dea seadanya. “ kebaikan ? kebaikan apa ? “. Seru Agni
setengah berteriak. Matanya mulai terasa
perih. Pikirannya kembali teringat akan
Cakka. Sudah tiga hari dia tidak
berjumpa pemuda itu. Dan selama itu
mereka juga masih saling diam. Agni menghela nafas dan kembali
menghempaskan tubuhnya di kursi
riasnya sembari menelungkupkan
wajahnya di kedua lipatan tangannya di
atas meja. *** “ lepas. Lepasin gw ! “. Cakka meronta
saat beberapa orang menyeretnya begitu
saja memasuki sebuah van. Cakka
menatap tajam beberapa orang yang
berada di dalam van tersebut geram. . . Cakka menatap sepasang suami istri di
hadapannya dengan mata menyala. Ia
kepalkan tangannya dengan gigi
menggeretak. “ Danar cepat kamu bawa tuan muda ke
kamarnya untuk berganti pakaian “. Seru
pria paruhbaya menatap Cakka dingin. “ aku gak mau “. Ucap Cakka menepis
tangan Danar. Pria paruhbaya yang tak
lain adalah papa Cakka itu menatapnya
tajam. “ kamu apa-apaan, huh ? acara
pertunangan kamu tinggal beberapa jam
lagi. Jangan bikin malu keluarga “. Ucap
pria itu marah. “ aku ? papa gak salah. Justru papa yang
buat keluarga kita malu pa ? “ Plak. sebuah tamparan mendarat di pipi
putih Cakka. Alvin yang berdiri tak jauh di
samping papanya itu pun menatap kakak
satu-satunya itu cemas. “ jaga omongan kamu Cakka “. Ucap pria
itu lagi dan dengan isyarat ia pun
menyuruh anak buahnya membawa
Cakka kemarnya. *** Agni menatap sosok pemuda yang berdiri
di hadapannya tak percaya. Antara
senang dan bingung. Sementara Cakka
masih menunjukkan tatapan penuh
amarah untuk Agni. Tak lama pak
Ferdinan pun terlihat di atas panggung kecil dan tersenyum pada seluruh
undangan. “ selamat malam semua, malam ini
adalah hari spesial cucu saya. Agiezkka
Ferdinan “. Ucap pak Ferdinan dan
tersenyum kearah Agni. “ malam ini cucu
saya akan bertunangan dengan Cakka.
Cakka Andrian “. Agni seketika melotot saat sang kakek menyerukan nama
Cakka. Di liriknya Cakka sesaat. Tampak
Cakka yang terlihat seakan menahan
emosinya. Sebisa mungkin Agni menahan
diri untuk tidak mendekat kearah Cakka. “ gak mungkin.. kakek ngomong apa sih ?
“. Seru Agni tanpa sadar dan
membuatnya kini menjadi pusat
perhatian. Agni memandang
sekelilingnya ragu sesaat ia pun
menunduk . . . Cakka dan Agni kini berdiri berhadapan.
Agni menahan nafas dan tampak
bergidik melihat tatapan menakutkan
yang Cakka berikan. Agni menutup
matanya sesaat. Bayangan akan Cakka
yang selalu menatapnya lembut kini bergerak di kepalanya. Jujur. Agni sangat
merindukan tatapan mata itu. Agni
menarik nafas sejenak, pelahan Agni pun
berjalan mundur dan menarik jemarinya
yang sedetik lalu sudah di genggam
Cakka. Ferdinan dan juga orang tua Cakka tampak terkejut. “ Agni, apa yang kamu lakukan ? “. Seru
ferdinan menatap cucunya itu tajam.
Agni tampak tersenyum berusaha
menahan tangisnya. “ kakek.. Agni gak mau tunangan karena
terpaksa. Agni gak mau ikatan ini
didasari karena uang. Maaf kek. Agni gak
bisa tunangan sama orang yang gak cinta
sama Agni “. Ucap Agni sesaat kemudian
dan kontan membuat semua undangan ternganga. Agni melirik Cakka. cakka pun
tampak menatap Agni dengan dahi
berkerut. “ maksud kamu apa ? “. Tanya Ferdinan. “ anggap hutang on Andrian lunas kek.
Jangan paksa Cakka tunangan sama aku
Cuma karena uang. Aku sadar sekarang,
cinta yang di pandang karena nilai uang
gak akan bertahan lama “. Ujar Agni dan
tersenyum tipis menatap Cakka. “ maaf kek ! “. Agni meletakkan cincinnya
kembali di dalam kotak dan tak lama ia
pun berlalu. *** Agni menghapus air matanya kasar. Ia
tersenyum kecut. Agni masih sangat
ingat saat pertama kali ia melihatkan
daftar keriteria pacar idamannya pada
sahabat-sahabatnya. Yah, Agni yang
dahulu juga mementingkan uang dan kedudukan. Setelah mengenal Cakka
sebagai pemuda biasa lama-lama
pemikiran itu menghilang. “huhhh… ujung-ujungnya jatuh cinta
sama orang tajir juga gw “. Gumam Agni
dan memangku dagunya. “ eghem.. orang kaya yang terancam
bangkrut “. “ Cakka ! “. Agni mendongakkan
kepalanya. Cakka tampak tersenyum dan
mendudukkan dirinya tepat di samping
Agni. Keduanya kembali melemparkan
tatapan jauh menatap gedung-gedung
yang terlihat jauh di bawah mereka. “ aku boleh tanya sesuatu ? “. Cakka
mulai buka suara. Agni pun
memberanikan diri melirik kearah Cakka. “ kenapa kamu batalin pertunangan ? “. “huh ? “. Agni tampak melebarkan
matanya saat mendengar pertanyaan
Cakka itu. Ia tampak berfikir. “ hemmm… aku gak mau tunangan kalau
Cuma terpaksa “. Ucap Agni dan menatap
Cakka lekat. Cakka terdiam. Sesaat
tatapan matanya kembali hangat. Agni
pun tersenyum melihatnya. “ Cakka ? “. “ ya ? “. “kenapa kamu tadi lihat aku kayak mau
marah gitu ? terus… kemaren juga kamu
bentak-bentak aku ? “. Cakka tampak
menunduk. Sesaat ia pun mengangkat
wajahnya dan menatap Agni lekat. “ huhhhh…aku minta maaf. Aku juga gak
mau tunangan Cuma karena uang. Karena
aku… “.ucap Cakka dan memberanikan
diri meraih jemari Agni. Agni tampak
tersentak. Di tatapnya Cakka tepat di
kedua matanya. “karena aku udah jatuh cinta dari
pertama ketemu kamu “. “ huh ? “. Agni menganga lebar menatap
Cakka tak percaya. Cakka pun tampak
terkekeh dan mengacak rambut Agni
penuh sayang. “ kamu tau gak. Waktu kamu di depan
mesin minuman, aku udah suka sama
kamu… kamu lucu “. Terang Cakka dan
melingkarkan satu tangannya di
pinggang Agni. “ oh iya. Tunggu, kalau kamu anak om
Andrian, kenapa kamu bisa di jalanan ? “.
Tanya Agni penasaran. “ aku kabur. Aku udah tau soal
pertunangan itu, dan waktu aku dengar
cerita soal kamu suka sama Alvin, adik
aku. Aku jadi ngerasa… “ “ Alvin adik kamu ? “. Tanya Agni kaget.
Cakka pun mengangguk. “ huh.. pantes kalian mirip “. Gumam Agni
dan kembali melempar tatapannya lurus
kedepan. “ Agni !! “. Cakka kembali menghadapkan
Agni kearahnya. agni tampak menaikan
satu alisnya bingung. “ apa kamu… masih suka sama Alvin ?”.
tanya Cakka lirih. Agni tampak
tersenyum. Di rengkuhnya kedua pipi
Cakka dan di tatapnya kedua mata coklat
itu lekat. “ setelah aku pikir-pikir.. aku Cuma
kagum sama Alvin. Yang aku cinta itu
kamu “. “ tapi mata aku gak hitam loh. Terus, aku
juga gak suka model rambut kayak Alvin
“. Ucap Cakka dan menatap Agni jahil. Agni tampak terkikik. Sesaat kemudian
Agni pun memeluk Cakka erat. “ cinta
gak butuh alasan. Soal keriteria, yang
baik dan apa adanya juga udah cukup “.
Ucap Agni dalam pelukan Cakka. cakka
pun mengelus punggung Agni lembut dan mengecup puncak kepalanya lama. Tanpa keduanya sadari beberapa pasang
mata tampak tersenyum melihat mereka.
Termasuk Ferdinan dan kedua orang tua
Cakka. “ sepertinya kita harus memberikan
mereka kesempatan buat saling
mengenal dulu pak “. Ucap Andrian pelan
menatap anaknya yang keras kepala itu
sembari tersenyum. Ferdinan pun tampak
mengangguk dan menepuk pundak Andrian pelan. _FIN_
<data:blog.pageName/> |<br /> <data:blog.title/>


<data:blog.pageName/> |<br /> <data:blog.title/>

<data:blog.pageTitle/></ title></b:if></b:if> <div style='clear: both;'></div> </div> <div class='post-footer'> <div class='post-footer-line post-footer-line-1'> <span class='post-author vcard'> Diposting oleh <span class='fn' itemprop='author' itemscope='itemscope' itemtype='http://schema.org/Person'> <meta content='https://www.blogger.com/profile/07564143798478586039' itemprop='url'/> <a class='g-profile' href='https://www.blogger.com/profile/07564143798478586039' rel='author' title='author profile'> <span itemprop='name'>Unknown</span> </a> </span> </span> <span class='post-timestamp'> di <meta content='http://intannkumaladewi.blogspot.com/2013/10/ideal-boyfriend-cagni-cakkaagni.html' itemprop='url'/> <a class='timestamp-link' href='https://intannkumaladewi.blogspot.com/2013/10/ideal-boyfriend-cagni-cakkaagni.html' rel='bookmark' title='permanent link'><abbr class='published' itemprop='datePublished' title='2013-10-15T05:05:00-07:00'>05.05</abbr></a> </span> <span class='post-comment-link'> </span> <span class='post-icons'> <span class='item-control blog-admin pid-381155862'> <a href='https://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2506546840609844289&postID=1301486759647048842&from=pencil' title='Edit Entri'> <img alt='' class='icon-action' height='18' src='https://resources.blogblog.com/img/icon18_edit_allbkg.gif' width='18'/> </a> </span> </span> <div class='post-share-buttons goog-inline-block'> <a class='goog-inline-block share-button sb-email' href='https://www.blogger.com/share-post.g?blogID=2506546840609844289&postID=1301486759647048842&target=email' target='_blank' title='Kirimkan Ini lewat Email'><span class='share-button-link-text'>Kirimkan Ini lewat Email</span></a><a class='goog-inline-block share-button sb-blog' href='https://www.blogger.com/share-post.g?blogID=2506546840609844289&postID=1301486759647048842&target=blog' onclick='window.open(this.href, "_blank", "height=270,width=475"); return false;' target='_blank' title='BlogThis!'><span class='share-button-link-text'>BlogThis!</span></a><a class='goog-inline-block share-button sb-twitter' href='https://www.blogger.com/share-post.g?blogID=2506546840609844289&postID=1301486759647048842&target=twitter' target='_blank' title='Bagikan ke X'><span class='share-button-link-text'>Bagikan ke X</span></a><a class='goog-inline-block share-button sb-facebook' href='https://www.blogger.com/share-post.g?blogID=2506546840609844289&postID=1301486759647048842&target=facebook' onclick='window.open(this.href, "_blank", "height=430,width=640"); return false;' target='_blank' title='Berbagi ke Facebook'><span class='share-button-link-text'>Berbagi ke Facebook</span></a><a class='goog-inline-block share-button sb-pinterest' href='https://www.blogger.com/share-post.g?blogID=2506546840609844289&postID=1301486759647048842&target=pinterest' target='_blank' title='Bagikan ke Pinterest'><span class='share-button-link-text'>Bagikan ke Pinterest</span></a> </div> </div> <div class='post-footer-line post-footer-line-2'> <span class='post-labels'> </span> </div> <div class='post-footer-line post-footer-line-3'> <span class='post-location'> </span> </div> </div> </div> <div class='comments' id='comments'> <a name='comments'></a> <h4>Tidak ada komentar:</h4> <div id='Blog1_comments-block-wrapper'> <dl class='avatar-comment-indent' id='comments-block'> </dl> </div> <p class='comment-footer'> <div class='comment-form'> <a name='comment-form'></a> <h4 id='comment-post-message'>Posting Komentar</h4> <p> </p> <a href='https://www.blogger.com/comment/frame/2506546840609844289?po=1301486759647048842&hl=id&saa=85391&origin=https://intannkumaladewi.blogspot.com' id='comment-editor-src'></a> <iframe allowtransparency='true' class='blogger-iframe-colorize blogger-comment-from-post' frameborder='0' height='410px' id='comment-editor' name='comment-editor' src='' width='100%'></iframe> <script src='https://www.blogger.com/static/v1/jsbin/2830521187-comment_from_post_iframe.js' type='text/javascript'></script> <script type='text/javascript'> BLOG_CMT_createIframe('https://www.blogger.com/rpc_relay.html'); </script> </div> </p> </div> </div> </div></div> </div> <div class='blog-pager' id='blog-pager'> <span id='blog-pager-newer-link'> <a class='blog-pager-newer-link' href='https://intannkumaladewi.blogspot.com/2013/10/rify-rioify.html' id='Blog1_blog-pager-newer-link' title='Posting Lebih Baru'>Posting Lebih Baru</a> </span> <span id='blog-pager-older-link'> <a class='blog-pager-older-link' href='https://intannkumaladewi.blogspot.com/2013/09/alyssa-saufika-umari.html' id='Blog1_blog-pager-older-link' title='Posting Lama'>Posting Lama</a> </span> <a class='home-link' href='https://intannkumaladewi.blogspot.com/'>Beranda</a> </div> <div class='clear'></div> <div class='post-feeds'> <div class='feed-links'> Langganan: <a class='feed-link' href='https://intannkumaladewi.blogspot.com/feeds/1301486759647048842/comments/default' target='_blank' type='application/atom+xml'>Posting Komentar (Atom)</a> </div> </div> </div></div> </div> </div> <div class='column-left-outer'> <div class='column-left-inner'> <aside> </aside> </div> </div> <div class='column-right-outer'> <div class='column-right-inner'> <aside> <div class='sidebar section' id='sidebar-right-1'><div class='widget BlogArchive' data-version='1' id='BlogArchive1'> <h2>Arsip Blog</h2> <div class='widget-content'> <div id='ArchiveList'> <div id='BlogArchive1_ArchiveList'> <ul class='hierarchy'> <li class='archivedate collapsed'> <a class='toggle' href='javascript:void(0)'> <span class='zippy'> ►  </span> </a> <a class='post-count-link' href='https://intannkumaladewi.blogspot.com/2015/'> 2015 </a> <span class='post-count' dir='ltr'>(2)</span> <ul class='hierarchy'> <li class='archivedate collapsed'> <a class='toggle' href='javascript:void(0)'> <span class='zippy'> ►  </span> </a> <a class='post-count-link' href='https://intannkumaladewi.blogspot.com/2015/11/'> November </a> <span class='post-count' dir='ltr'>(1)</span> </li> </ul> <ul class='hierarchy'> <li class='archivedate collapsed'> <a class='toggle' href='javascript:void(0)'> <span class='zippy'> ►  </span> </a> <a class='post-count-link' href='https://intannkumaladewi.blogspot.com/2015/02/'> Februari </a> <span class='post-count' dir='ltr'>(1)</span> </li> </ul> </li> </ul> <ul class='hierarchy'> <li class='archivedate collapsed'> <a class='toggle' href='javascript:void(0)'> <span class='zippy'> ►  </span> </a> <a class='post-count-link' href='https://intannkumaladewi.blogspot.com/2014/'> 2014 </a> <span class='post-count' dir='ltr'>(15)</span> <ul class='hierarchy'> <li class='archivedate collapsed'> <a class='toggle' href='javascript:void(0)'> <span class='zippy'> ►  </span> </a> <a class='post-count-link' href='https://intannkumaladewi.blogspot.com/2014/11/'> November </a> <span class='post-count' dir='ltr'>(1)</span> </li> </ul> <ul class='hierarchy'> <li class='archivedate collapsed'> <a class='toggle' href='javascript:void(0)'> <span class='zippy'> ►  </span> </a> <a class='post-count-link' href='https://intannkumaladewi.blogspot.com/2014/09/'> September </a> <span class='post-count' dir='ltr'>(1)</span> </li> </ul> <ul class='hierarchy'> <li class='archivedate collapsed'> <a class='toggle' href='javascript:void(0)'> <span class='zippy'> ►  </span> </a> <a class='post-count-link' href='https://intannkumaladewi.blogspot.com/2014/08/'> Agustus </a> <span class='post-count' dir='ltr'>(1)</span> </li> </ul> <ul class='hierarchy'> <li class='archivedate collapsed'> <a class='toggle' href='javascript:void(0)'> <span class='zippy'> ►  </span> </a> <a class='post-count-link' href='https://intannkumaladewi.blogspot.com/2014/07/'> Juli </a> <span class='post-count' dir='ltr'>(2)</span> </li> </ul> <ul class='hierarchy'> <li class='archivedate collapsed'> <a class='toggle' href='javascript:void(0)'> <span class='zippy'> ►  </span> </a> <a class='post-count-link' href='https://intannkumaladewi.blogspot.com/2014/06/'> Juni </a> <span class='post-count' dir='ltr'>(3)</span> </li> </ul> <ul class='hierarchy'> <li class='archivedate collapsed'> <a class='toggle' href='javascript:void(0)'> <span class='zippy'> ►  </span> </a> <a class='post-count-link' href='https://intannkumaladewi.blogspot.com/2014/05/'> Mei </a> <span class='post-count' dir='ltr'>(3)</span> </li> </ul> <ul class='hierarchy'> <li class='archivedate collapsed'> <a class='toggle' href='javascript:void(0)'> <span class='zippy'> ►  </span> </a> <a class='post-count-link' href='https://intannkumaladewi.blogspot.com/2014/04/'> April </a> <span class='post-count' dir='ltr'>(3)</span> </li> </ul> <ul class='hierarchy'> <li class='archivedate collapsed'> <a class='toggle' href='javascript:void(0)'> <span class='zippy'> ►  </span> </a> <a class='post-count-link' href='https://intannkumaladewi.blogspot.com/2014/02/'> Februari </a> <span class='post-count' dir='ltr'>(1)</span> </li> </ul> </li> </ul> <ul class='hierarchy'> <li class='archivedate expanded'> <a class='toggle' href='javascript:void(0)'> <span class='zippy toggle-open'> ▼  </span> </a> <a class='post-count-link' href='https://intannkumaladewi.blogspot.com/2013/'> 2013 </a> <span class='post-count' dir='ltr'>(16)</span> <ul class='hierarchy'> <li class='archivedate collapsed'> <a class='toggle' href='javascript:void(0)'> <span class='zippy'> ►  </span> </a> <a class='post-count-link' href='https://intannkumaladewi.blogspot.com/2013/11/'> November </a> <span class='post-count' dir='ltr'>(3)</span> </li> </ul> <ul class='hierarchy'> <li class='archivedate expanded'> <a class='toggle' href='javascript:void(0)'> <span class='zippy toggle-open'> ▼  </span> </a> <a class='post-count-link' href='https://intannkumaladewi.blogspot.com/2013/10/'> Oktober </a> <span class='post-count' dir='ltr'>(2)</span> <ul class='posts'> <li><a href='https://intannkumaladewi.blogspot.com/2013/10/rify-rioify.html'>:::Rify::: *RioIfy*</a></li> <li><a href='https://intannkumaladewi.blogspot.com/2013/10/ideal-boyfriend-cagni-cakkaagni.html'>:::Ideal Boyfriend::: ~> Cagni *CakkaAgni*</a></li> </ul> </li> </ul> <ul class='hierarchy'> <li class='archivedate collapsed'> <a class='toggle' href='javascript:void(0)'> <span class='zippy'> ►  </span> </a> <a class='post-count-link' href='https://intannkumaladewi.blogspot.com/2013/09/'> September </a> <span class='post-count' dir='ltr'>(3)</span> </li> </ul> <ul class='hierarchy'> <li class='archivedate collapsed'> <a class='toggle' href='javascript:void(0)'> <span class='zippy'> ►  </span> </a> <a class='post-count-link' href='https://intannkumaladewi.blogspot.com/2013/08/'> Agustus </a> <span class='post-count' dir='ltr'>(8)</span> </li> </ul> </li> </ul> </div> </div> <div class='clear'></div> </div> </div><div class='widget Profile' data-version='1' id='Profile1'> <h2>♫Beliebers♫</h2> <div class='widget-content'> <dl class='profile-datablock'> <dt class='profile-data'> <a class='profile-name-link g-profile' href='https://www.blogger.com/profile/07564143798478586039' rel='author' style='background-image: url(//www.blogger.com/img/logo-16.png);'> Unknown </a> </dt> </dl> <a class='profile-link' href='https://www.blogger.com/profile/07564143798478586039' rel='author'>Lihat profil lengkapku</a> <div class='clear'></div> </div> </div></div> </aside> </div> </div> </div> <div style='clear: both'></div> <!-- columns --> </div> <!-- main --> </div> </div> <div class='main-cap-bottom cap-bottom'> <div class='cap-left'></div> <div class='cap-right'></div> </div> </div> <footer> <div class='footer-outer'> <div class='footer-cap-top cap-top'> <div class='cap-left'></div> <div class='cap-right'></div> </div> <div class='fauxborder-left footer-fauxborder-left'> <div class='fauxborder-right footer-fauxborder-right'></div> <div class='region-inner footer-inner'> <div class='foot no-items section' id='footer-1'></div> <table border='0' cellpadding='0' cellspacing='0' class='section-columns columns-2'> <tbody> <tr> <td class='first columns-cell'> <div class='foot no-items section' id='footer-2-1'></div> </td> <td class='columns-cell'> <div class='foot no-items section' id='footer-2-2'></div> </td> </tr> </tbody> </table> <!-- outside of the include in order to lock Attribution widget --> <div class='foot section' id='footer-3' name='Footer'><div class='widget Attribution' data-version='1' id='Attribution1'> <div class='widget-content' style='text-align: center;'> Tema Jendela Gambar. Diberdayakan oleh <a href='https://www.blogger.com' target='_blank'>Blogger</a>. </div> <div class='clear'></div> </div></div> </div> </div> <div class='footer-cap-bottom cap-bottom'> <div class='cap-left'></div> <div class='cap-right'></div> </div> </div> </footer> <!-- content --> </div> </div> <div class='content-cap-bottom cap-bottom'> <div class='cap-left'></div> <div class='cap-right'></div> </div> </div> </div> <script type='text/javascript'> window.setTimeout(function() { document.body.className = document.body.className.replace('loading', ''); }, 10); </script> <script type="text/javascript" src="https://www.blogger.com/static/v1/widgets/2470821300-widgets.js"></script> <script type='text/javascript'> window['__wavt'] = 'APlU3lxswh74pQdBPZtNXHsZCHaX:1774673181594';_WidgetManager._Init('//www.blogger.com/rearrange?blogID\x3d2506546840609844289','//intannkumaladewi.blogspot.com/2013/10/ideal-boyfriend-cagni-cakkaagni.html','2506546840609844289'); _WidgetManager._SetDataContext([{'name': 'blog', 'data': {'blogId': '2506546840609844289', 'title': 'Intann Kumala Dewi', 'url': 'https://intannkumaladewi.blogspot.com/2013/10/ideal-boyfriend-cagni-cakkaagni.html', 'canonicalUrl': 'http://intannkumaladewi.blogspot.com/2013/10/ideal-boyfriend-cagni-cakkaagni.html', 'homepageUrl': 'https://intannkumaladewi.blogspot.com/', 'searchUrl': 'https://intannkumaladewi.blogspot.com/search', 'canonicalHomepageUrl': 'http://intannkumaladewi.blogspot.com/', 'blogspotFaviconUrl': 'https://intannkumaladewi.blogspot.com/favicon.ico', 'bloggerUrl': 'https://www.blogger.com', 'hasCustomDomain': false, 'httpsEnabled': true, 'enabledCommentProfileImages': true, 'gPlusViewType': 'FILTERED_POSTMOD', 'adultContent': false, 'analyticsAccountNumber': '', 'encoding': 'UTF-8', 'locale': 'id', 'localeUnderscoreDelimited': 'id', 'languageDirection': 'ltr', 'isPrivate': false, 'isMobile': false, 'isMobileRequest': false, 'mobileClass': '', 'isPrivateBlog': false, 'isDynamicViewsAvailable': true, 'feedLinks': '\x3clink rel\x3d\x22alternate\x22 type\x3d\x22application/atom+xml\x22 title\x3d\x22Intann Kumala Dewi - Atom\x22 href\x3d\x22https://intannkumaladewi.blogspot.com/feeds/posts/default\x22 /\x3e\n\x3clink rel\x3d\x22alternate\x22 type\x3d\x22application/rss+xml\x22 title\x3d\x22Intann Kumala Dewi - RSS\x22 href\x3d\x22https://intannkumaladewi.blogspot.com/feeds/posts/default?alt\x3drss\x22 /\x3e\n\x3clink rel\x3d\x22service.post\x22 type\x3d\x22application/atom+xml\x22 title\x3d\x22Intann Kumala Dewi - Atom\x22 href\x3d\x22https://www.blogger.com/feeds/2506546840609844289/posts/default\x22 /\x3e\n\n\x3clink rel\x3d\x22alternate\x22 type\x3d\x22application/atom+xml\x22 title\x3d\x22Intann Kumala Dewi - Atom\x22 href\x3d\x22https://intannkumaladewi.blogspot.com/feeds/1301486759647048842/comments/default\x22 /\x3e\n', 'meTag': '', 'adsenseHostId': 'ca-host-pub-1556223355139109', 'adsenseHasAds': false, 'adsenseAutoAds': false, 'boqCommentIframeForm': true, 'loginRedirectParam': '', 'view': '', 'dynamicViewsCommentsSrc': '//www.blogblog.com/dynamicviews/4224c15c4e7c9321/js/comments.js', 'dynamicViewsScriptSrc': '//www.blogblog.com/dynamicviews/400d273b28510d36', 'plusOneApiSrc': 'https://apis.google.com/js/platform.js', 'disableGComments': true, 'interstitialAccepted': false, 'sharing': {'platforms': [{'name': 'Dapatkan link', 'key': 'link', 'shareMessage': 'Dapatkan link', 'target': ''}, {'name': 'Facebook', 'key': 'facebook', 'shareMessage': 'Bagikan ke Facebook', 'target': 'facebook'}, {'name': 'BlogThis!', 'key': 'blogThis', 'shareMessage': 'BlogThis!', 'target': 'blog'}, {'name': 'X', 'key': 'twitter', 'shareMessage': 'Bagikan ke X', 'target': 'twitter'}, {'name': 'Pinterest', 'key': 'pinterest', 'shareMessage': 'Bagikan ke Pinterest', 'target': 'pinterest'}, {'name': 'Email', 'key': 'email', 'shareMessage': 'Email', 'target': 'email'}], 'disableGooglePlus': true, 'googlePlusShareButtonWidth': 0, 'googlePlusBootstrap': '\x3cscript type\x3d\x22text/javascript\x22\x3ewindow.___gcfg \x3d {\x27lang\x27: \x27id\x27};\x3c/script\x3e'}, 'hasCustomJumpLinkMessage': false, 'jumpLinkMessage': 'Baca selengkapnya', 'pageType': 'item', 'postId': '1301486759647048842', 'pageName': ':::Ideal Boyfriend::: ~\x3e Cagni *CakkaAgni*', 'pageTitle': 'Intann Kumala Dewi: :::Ideal Boyfriend::: ~\x26gt; Cagni *CakkaAgni*'}}, {'name': 'features', 'data': {}}, {'name': 'messages', 'data': {'edit': 'Edit', 'linkCopiedToClipboard': 'Tautan disalin ke papan klip!', 'ok': 'Oke', 'postLink': 'Tautan Pos'}}, {'name': 'template', 'data': {'name': 'Picture Window', 'localizedName': 'Jendela Gambar', 'isResponsive': false, 'isAlternateRendering': false, 'isCustom': false, 'variant': 'open', 'variantId': 'open'}}, {'name': 'view', 'data': {'classic': {'name': 'classic', 'url': '?view\x3dclassic'}, 'flipcard': {'name': 'flipcard', 'url': '?view\x3dflipcard'}, 'magazine': {'name': 'magazine', 'url': '?view\x3dmagazine'}, 'mosaic': {'name': 'mosaic', 'url': '?view\x3dmosaic'}, 'sidebar': {'name': 'sidebar', 'url': '?view\x3dsidebar'}, 'snapshot': {'name': 'snapshot', 'url': '?view\x3dsnapshot'}, 'timeslide': {'name': 'timeslide', 'url': '?view\x3dtimeslide'}, 'isMobile': false, 'title': ':::Ideal Boyfriend::: ~\x3e Cagni *CakkaAgni*', 'description': '\u201c nih ! \u201c. \u201c buseeeet. Banyak bener \u201c. \u201c loe yakin nih ? \u201c. \u201c yapz !! \u201c. \u201c gila agh loe \u201c. Gadis manis ini tampak menggidikkan bahu tak ped...', 'url': 'https://intannkumaladewi.blogspot.com/2013/10/ideal-boyfriend-cagni-cakkaagni.html', 'type': 'item', 'isSingleItem': true, 'isMultipleItems': false, 'isError': false, 'isPage': false, 'isPost': true, 'isHomepage': false, 'isArchive': false, 'isLabelSearch': false, 'postId': 1301486759647048842}}]); _WidgetManager._RegisterWidget('_NavbarView', new _WidgetInfo('Navbar1', 'navbar', document.getElementById('Navbar1'), {}, 'displayModeFull')); _WidgetManager._RegisterWidget('_HeaderView', new _WidgetInfo('Header1', 'header', document.getElementById('Header1'), {}, 'displayModeFull')); _WidgetManager._RegisterWidget('_BlogView', new _WidgetInfo('Blog1', 'main', document.getElementById('Blog1'), {'cmtInteractionsEnabled': false, 'lightboxEnabled': true, 'lightboxModuleUrl': 'https://www.blogger.com/static/v1/jsbin/2626028960-lbx.js', 'lightboxCssUrl': 'https://www.blogger.com/static/v1/v-css/828616780-lightbox_bundle.css'}, 'displayModeFull')); _WidgetManager._RegisterWidget('_BlogArchiveView', new _WidgetInfo('BlogArchive1', 'sidebar-right-1', document.getElementById('BlogArchive1'), {'languageDirection': 'ltr', 'loadingMessage': 'Memuat\x26hellip;'}, 'displayModeFull')); _WidgetManager._RegisterWidget('_ProfileView', new _WidgetInfo('Profile1', 'sidebar-right-1', document.getElementById('Profile1'), {}, 'displayModeFull')); _WidgetManager._RegisterWidget('_AttributionView', new _WidgetInfo('Attribution1', 'footer-3', document.getElementById('Attribution1'), {}, 'displayModeFull')); </script> </body> </html>