Aku suka dia. Aku suka dia yang cerewet. Aku juga suka dia yang pemarah. Apalagi kalau dia egois. Aku lebih suka lagi kalau dia lagi nyebelin. Aku suka semua itu, aku suka banget.
Bukan kebaikannya yang buat aku sayang, tapi karena dia tau mana yang terbaik buat aku. Dia yang bilang kalo manjangin kuku itu jorok, padahal awalnya menurutku itu keren. Dia yang bilang kalo pake kuteks itu kotor, padahal awalnya menurutku itu modis. Dia yang bilang kalo aku itu cerewet, padahal semua cewek juga pasti cerewet. Dia yang dengan frontalnya bilang kalo aku itu cengeng, tapi tanpa dia tau alasan disetiap tangisku itu adalah dia.
Awalnya aku tak melihatmu. Tapi saat semuanya mengharuskanku untuk melihatmu, aku menjadi memperhatikanmu. Dari perhatian itu aku jadi mengagumimu. Dan dari kekaguman itu aku merasa bahwa aku menyayangimu. Rasa sayang itu akhirnya memaksaku untuk melupakanmu, berusaha menutup mataku agar kamu tak terlihat. Seindah apapun kamu, aku diharuskan untuk tidak boleh melihatmu lagi.
Awalnya aku benci karena kamu selalu menyalahkanku. Tapi sekarang aku benci karena kamu selalu memaksaku untuk tetap bertahan disini, di tempat yang awalnya aku merasa nyaman untuk menantimu, kini berubah menjadi tempat yang membuatku jenuh.
Kamu tau rasanya menunggu sesuatu yang tak ada alasan untuk kamu dapatkan? Itu seperti anak kecil yang berharap dapat memeluk bintang. Mustahil! Bintang itu jauh, sulit untuk digenggam. Begitupun kamu. Sedekat apapun jarak kita, aku masih merasa bahwa kita sangat jauh, tak mungkin bisa digenggam.
Kalo kamu menyayangi dia, aku akan menyayangimu. Kalau dia menyakitimu, aku akan tetap menyayangimu. Itulah perbedaanku dengan dia. Aku akan tetap disini. Sejenuh apapun aku disampingmu, tak ada satupun alasan untukku meninggalkanmu, karena kamu begitu sempurna.
I have many problems in my life. But my lips don't
know that. They always smile:) Just because of you!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar